Katak dalam Tempurung, Antara Kebebasan yang Dibungkam dan Jiwa yang Terkungkung

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 22 Agustus 2025 | 10:00 WIB
View sunset di Pantai Pamboang, Majene, Sulawesi Barat (Foto: Mediusnews.com)
View sunset di Pantai Pamboang, Majene, Sulawesi Barat (Foto: Mediusnews.com)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah kita berhenti sejenak, menutup mata, lalu bertanya kepada diri sendiri: apakah aku benar-benar hidup sesuai pilihan nurani, ataukah sekadar menjadi bidak yang digerakkan oleh sistem dan kekuasaan?

Pernahkah kita merasa bahwa suara hati hanyalah gema di ruang kosong, tak terdengar oleh dunia yang sibuk dengan aturan-aturan dan kepentingan yang lebih sering membelenggu daripada membebaskan?

Mengapa banyak di antara kita memilih bertahan di jalan aman—meski sempit dan sesak—daripada berani menembus dinding keterbatasan menuju luasnya cakrawala kebebasan?

Bukankah Allah menciptakan manusia untuk berpikir, memilih, dan menentukan jalan hidupnya dengan merdeka, bukan sekadar mengikuti arus tanpa arah?

Apakah kita rela kebebasan itu ternodai oleh egoisme pribadi yang menempatkan kepentingan diri di atas kepentingan umat, bangsa, dan kemanusiaan?

Tidakkah kita khawatir bahwa tanpa sadar kita sedang menjadi “katak dalam tempurung”: merasa cukup dengan ruang sempit, padahal di luar sana terbentang samudera pengetahuan, kolaborasi, dan kehidupan yang lebih bermakna?

Kebebasan sejatinya adalah anugerah agung dari Allah. Namun, kebebasan bukanlah kebebasan liar tanpa batas, melainkan kebebasan yang disertai adab, nilai, dan tanggung jawab. Bila kebebasan dikecilkan, ia berubah menjadi tempurung yang menutup pandangan.

Maka manusia pun menjadi seperti katak yang hanya mengenal ruang kecilnya, puas dengan semesta sempit yang ia kira luas, dan buta terhadap dunia yang lebih lapang.

Allah SWT berfirman:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Atau apakah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Bukankah kunci yang menutup hati itu sama dengan tempurung yang membatasi pandangan?

Rasulullah SAW. pun mengingatkan:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الْأَمَانِيَّ
“Orang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. Tirmidzi).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X