Betapa banyak manusia hari ini yang justru terperangkap dalam tempurung hawa nafsu, mengejar kepentingan pribadi, memuja ego, dan melupakan kepentingan kolektif.
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
“Nilai setiap orang adalah sesuai dengan apa yang ia kuasai dan ia manfaatkan.”
Islam memberi jalan keluar dari tempurung itu. Ilmu adalah cahaya yang menembus dinding sempit, membuka cakrawala luas, dan melahirkan keberanian untuk berpikir serta berinovasi.
Rasulullah SAW bersabda:
اطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ
“Tuntutlah ilmu meskipun sampai ke negeri Cina.” (HR. Baihaqi).
Dan ketika ilmu menyinari akal, Allah SWT memerintahkan kita untuk bersinergi:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2).
Dengan akhlak, kebebasan tidak menjelma kebiadaban, melainkan menjadi jalan menuju kebaikan. Dengan zuhud, manusia terbebas dari tempurung materialisme dan egoisme pribadi. Hasan al-Bashri menegaskan:
لَيْسَ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ وَلَكِنْ الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ
“Zuhud bukan berarti mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, melainkan zuhud adalah ketika keyakinanmu pada apa yang ada di sisi Allah lebih kuat daripada pada apa yang ada di tanganmu.”
Maka jelaslah, katak dalam tempurung adalah jiwa yang kerdil dan terpenjara oleh dirinya sendiri. Sebaliknya, manusia merdeka adalah mereka yang berani membuka diri, berpikir luas, hidup dengan akhlak, bersinergi dengan sesama, dan menjadikan Allah sebagai tujuan akhir.
Allah SWT menyeru:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ
“Maka berlarilah kamu kepada Allah, sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan yang nyata dari-Nya.” (QS. Adz-Dzariyat: 50).
Maka keluarlah dari tempurung egoisme menuju samudera kebebasan: kebebasan spiritual yang menghubungkan kita dengan Allah, kebebasan intelektual yang menuntun kita pada ilmu, dan kebebasan sosial yang mengajarkan kita hidup bersama dalam kebaikan.
Doa Penutup
Artikel Terkait
Mengapa Struktur Bangunan Jembatan, Terowongan, dan Bendungan Sering Dibuat Melengkung?
Keadilan Sosial, Kemiskinan dan 80 Tahun Indonesia Merdeka
Mutiara Pagi: Romantika Ketidaksempurnaan (Bagian 1938)
Memaknai Tema 80 Tahun Kemerdekaan RI
Masjid Al-Muhajirin Bumi Pratama Gunteng Gelar Pelantikan dan Sertijab Ketua DKM Baru
Dampingi Proses Kasus Rudapaksa, Ketua KPAID Cianjur Lakukan Pengawasan
Mutiara Pagi: Lain di Bibir, Lain di Hati (Bagian 1939)
Air sebagai Medium Doa: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan
Makna dan Manfaat Asmaul Husna dalam Perspektif ESQ
Majelis Hakim PN Cianjur Vonis Hendi Suhendi 6 Bulan Penjara dalam Kasus Pertambangan Liar yang Tidak Dilakukannya