Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tibalah kita di penghujung bulan Safar. Dalam tradisi Islam, bulan Safar sering dikaitkan dengan berbagai perbincangan tentang 320.000 penyakit atau bala serta 20.000 musibah.
Keyakinan ini melahirkan sejumlah amalan, doa, dan wirid sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.
Di pesantren, amalan semacam ini dipahami dalam bingkai mujarrabāt, yaitu pengalaman spiritual para wali dan ulama sufi. Kedudukannya tidak sama dengan sunnah mu’akkadah atau ibadah baku, melainkan berada pada wilayah fadā’il al-a‘māl (amalan tambahan).
Salah satu rujukan penting adalah kitab Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyyah al-Ma’tsurah allati Tasyrahush Shudur karya Syekh Abdul Hamid Kudus. Dalam kitab itu dijelaskan, siapa yang berdoa pada hari pertama bulan Safar dan Rabu terakhir bulan tersebut, maka Allah akan melindunginya dari keburukan bala.
Syaikhona Maimoen Zubair meneladankan amalan khusus pada malam Rebo Wekasan bersama santrinya, berupa salat hajat, pembacaan surat Yasin, doa shalawat munjiyat, serta penulisan tujuh ayat salam yang kemudian dilebur ke dalam air. Kitab Kanzun Najah was Surur menegaskan, barang siapa menulis tujuh ayat salam, lalu merendamnya dalam air dan meminumnya, ia akan diselamatkan dari bala yang diturunkan.
Tradisi tersebut sejalan dengan penelitian Dr. Masaru Emoto, ilmuwan Jepang dalam bukunya The Hidden Messages in Water. Ia menemukan bahwa air mampu “menyimpan” energi, merespons doa, kata-kata, bahkan pikiran manusia.
Air yang diberi doa dan kata-kata baik membentuk kristal es indah, sementara air yang terkena kata-kata kasar membentuk kristal yang pecah. Emoto menulis, “Water has a memory and carries within it our thoughts and prayers.”
Pandangan ini menemukan resonansinya dalam Islam. Al-Qur’an menyebut, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30). Ulama Nusantara pun kerap menuliskan ayat Al-Qur’an, memasukkannya ke air, lalu meminumnya sebagai ikhtiar memperoleh keberkahan.
Hal ini menunjukkan keyakinan bahwa kalam Ilahi mampu “menyentuh” air, sebagaimana gagasan Emoto bahwa kata-kata dapat meninggalkan jejak dalam struktur air.
Dari sini dapat dipahami, amalan Rebo Wekasan bukanlah ibadah yang ditetapkan Rasulullah SAW, melainkan doa dan zikir tambahan yang tidak bertentangan dengan syariat selama diyakini hanya sebagai ikhtiar, bukan kepastian. Pesantren menempatkannya dalam kerangka tauhid: manfaat dan mudarat tetap semata-mata datang dari Allah SWT.
Rebo Wekasan pada akhirnya adalah pengingat agar umat memperbanyak doa, zikir, dan shalawat. Air berperan sebagai medium spiritual yang membawa doa dan keberkahan.
Sebagaimana firman Allah: “Aku kabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186).
Dengan hati yang ikhlas dan doa yang tulus, air bukan lagi sekadar cairan penyegar, melainkan saksi sekaligus perantara keberkahan bagi manusia.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Kampung Merdeka (Bagian 1937)
Jalan Santai Semarakkan HUT RI ke-80 di Desa Sukakerta
Marching Band SDN Bobojong Meriahkan Karnaval HUT RI ke-80 di Kecamatan Mande
Mengapa Struktur Bangunan Jembatan, Terowongan, dan Bendungan Sering Dibuat Melengkung?
Keadilan Sosial, Kemiskinan dan 80 Tahun Indonesia Merdeka
Mutiara Pagi: Romantika Ketidaksempurnaan (Bagian 1938)
Memaknai Tema 80 Tahun Kemerdekaan RI
Masjid Al-Muhajirin Bumi Pratama Gunteng Gelar Pelantikan dan Sertijab Ketua DKM Baru
Dampingi Proses Kasus Rudapaksa, Ketua KPAID Cianjur Lakukan Pengawasan
Mutiara Pagi: Lain di Bibir, Lain di Hati (Bagian 1939)