Air sebagai Medium Doa: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 17:32 WIB

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga tibalah kita di penghujung bulan Safar. Dalam tradisi Islam, bulan Safar sering dikaitkan dengan berbagai perbincangan tentang 320.000 penyakit atau bala serta 20.000 musibah.

Keyakinan ini melahirkan sejumlah amalan, doa, dan wirid sebagai bentuk permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

Di pesantren, amalan semacam ini dipahami dalam bingkai mujarrabāt, yaitu pengalaman spiritual para wali dan ulama sufi. Kedudukannya tidak sama dengan sunnah mu’akkadah atau ibadah baku, melainkan berada pada wilayah fadā’il al-a‘māl (amalan tambahan).

Salah satu rujukan penting adalah kitab Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyyah al-Ma’tsurah allati Tasyrahush Shudur karya Syekh Abdul Hamid Kudus. Dalam kitab itu dijelaskan, siapa yang berdoa pada hari pertama bulan Safar dan Rabu terakhir bulan tersebut, maka Allah akan melindunginya dari keburukan bala.

Syaikhona Maimoen Zubair meneladankan amalan khusus pada malam Rebo Wekasan bersama santrinya, berupa salat hajat, pembacaan surat Yasin, doa shalawat munjiyat, serta penulisan tujuh ayat salam yang kemudian dilebur ke dalam air. Kitab Kanzun Najah was Surur menegaskan, barang siapa menulis tujuh ayat salam, lalu merendamnya dalam air dan meminumnya, ia akan diselamatkan dari bala yang diturunkan.

Tradisi tersebut sejalan dengan penelitian Dr. Masaru Emoto, ilmuwan Jepang dalam bukunya The Hidden Messages in Water. Ia menemukan bahwa air mampu “menyimpan” energi, merespons doa, kata-kata, bahkan pikiran manusia.

Air yang diberi doa dan kata-kata baik membentuk kristal es indah, sementara air yang terkena kata-kata kasar membentuk kristal yang pecah. Emoto menulis, “Water has a memory and carries within it our thoughts and prayers.”

Pandangan ini menemukan resonansinya dalam Islam. Al-Qur’an menyebut, “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS. Al-Anbiya: 30). Ulama Nusantara pun kerap menuliskan ayat Al-Qur’an, memasukkannya ke air, lalu meminumnya sebagai ikhtiar memperoleh keberkahan.

Hal ini menunjukkan keyakinan bahwa kalam Ilahi mampu “menyentuh” air, sebagaimana gagasan Emoto bahwa kata-kata dapat meninggalkan jejak dalam struktur air.

Dari sini dapat dipahami, amalan Rebo Wekasan bukanlah ibadah yang ditetapkan Rasulullah SAW, melainkan doa dan zikir tambahan yang tidak bertentangan dengan syariat selama diyakini hanya sebagai ikhtiar, bukan kepastian. Pesantren menempatkannya dalam kerangka tauhid: manfaat dan mudarat tetap semata-mata datang dari Allah SWT.

Rebo Wekasan pada akhirnya adalah pengingat agar umat memperbanyak doa, zikir, dan shalawat. Air berperan sebagai medium spiritual yang membawa doa dan keberkahan.

Sebagaimana firman Allah: “Aku kabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186).

Dengan hati yang ikhlas dan doa yang tulus, air bukan lagi sekadar cairan penyegar, melainkan saksi sekaligus perantara keberkahan bagi manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X