(Senandung untuk Negeri)
Dengan nama keadilan ingatlah akan kisah
tentang negeri yang subur dan ramah
Gunung-gunungnya menjulang setia
sungai dan lautnya mengalirkan doa
menyimpan mutiara, harap, dan cinta
Kalau di situ ada yang bertanya:
“Di manakah suara kebenaran bersembunyi?”
Jawabnya ada di desah napas ibu
yang menanak air menggantikan beras
di mata bocah yang menunggu
seribu janji tak pernah tuntas
Di sana terdengar ratap:
menetes peluh dan air mata
dari kening petani yang setia
Jerih disiram hujan
tetapi panen tinggal angan
Alangkah pedih Indonesia
Tanah airku tercinta
Mentari bulat emas
menyapa sawah yang mulai retak
Mendung pun berarak deras
namun sumur-sumur kering tak tersentuh hak
Rakyat menengadah
menyebut nama Allah
Hati mereka berjuta luka
namun tetap berdoa dengan setia
Kalau di situ ada yang berseru:
“Apakah arti kursi kekuasaan itu?”
Rakyat menjawab dengan getir:
kursi hanyalah kayu
yang akan patah bila dipikul dosa
dan akan tegak bila ditopang amanah
Gunung-gunung bersaksi
bahwa darah para pejuang
pernah menetes di hutan-hutan sunyi
Lautan pun ikut bersaksi
bahwa jiwa nelayan
pernah karam bersama gelombang janji
Namun rakyat tak pernah berhenti bernyanyi:
meski lidah perih
meski suara patah-patah
meski jerit ditelan angin kota
mereka tetap mendendangkan satu lagu:
“Indonesia, jangan kau berpaling dari kami
karena kami adalah denyutmu sendiri.”
Bulan purnama pucat menyapa jalan kampung yang berdebu
Bintang-bintang berkilat menyaksikan rakyat kecil masih bersatu
Maka dengarlah, wahai para pemimpin
suara hati rakyat bukan sekadar bisikan
tetapi doa yang menjelma ombak
menggulung keserakahan
tetapi harapan yang menjelma pelita
menyuluh jalan masa depan bangsa
Malang, 23 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Memaknai Tema 80 Tahun Kemerdekaan RI
Masjid Al-Muhajirin Bumi Pratama Gunteng Gelar Pelantikan dan Sertijab Ketua DKM Baru
Dampingi Proses Kasus Rudapaksa, Ketua KPAID Cianjur Lakukan Pengawasan
Mutiara Pagi: Lain di Bibir, Lain di Hati (Bagian 1939)
Air sebagai Medium Doa: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan
Makna dan Manfaat Asmaul Husna dalam Perspektif ESQ
Majelis Hakim PN Cianjur Vonis Hendi Suhendi 6 Bulan Penjara dalam Kasus Pertambangan Liar yang Tidak Dilakukannya
Katak dalam Tempurung, Antara Kebebasan yang Dibungkam dan Jiwa yang Terkungkung
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Manusia sebagai Pemimpin, Amanah dan Tanggung Jawab Kehidupan (Bagian 1)
Mutiara Pagi: Sariawan Kekuasaan (Bagian 1940)