(Nyanyian buat Bang Yayak)
Antara manisnya menjilat
dan pahitnya menjabat
Ternyata hanyalah sesaat
Bila tak disertai amanat
Manisnya tak pernah abadi
Seperti karamel di cangkir kopi
Bak kopi susu kekinian
Yang menawarkan minuman instan
Menjilat, seolah bukan perilaku memalukan
Justru menjelma menjadi kebanggaan
Rela menggosok punggung atasan
Agar cepat melompat ke kursi kekuasaan
Padahal kekuasaan yang sehat
Hanya tumbuh dari amanat rakyat
Bukan dari pikiran yang sariawan
Terasa perih untuk bicara kejujuran
Kekuasaan tanpa amanat
Ibarat kopi tanpa biji
Hanya air berwarna pekat
Tidak ada rasa sama sekali
Lidah teramat licin
Dalam menutupi kejahatan
Dan membuat orang lain yakin
Bahwa dirinya tidak sariawan kekuasaan
Malang, 22 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Keadilan Sosial, Kemiskinan dan 80 Tahun Indonesia Merdeka
Mutiara Pagi: Romantika Ketidaksempurnaan (Bagian 1938)
Memaknai Tema 80 Tahun Kemerdekaan RI
Masjid Al-Muhajirin Bumi Pratama Gunteng Gelar Pelantikan dan Sertijab Ketua DKM Baru
Dampingi Proses Kasus Rudapaksa, Ketua KPAID Cianjur Lakukan Pengawasan
Mutiara Pagi: Lain di Bibir, Lain di Hati (Bagian 1939)
Air sebagai Medium Doa: Dari Eksperimen Emoto hingga Amalan Rebo Wekasan
Makna dan Manfaat Asmaul Husna dalam Perspektif ESQ
Majelis Hakim PN Cianjur Vonis Hendi Suhendi 6 Bulan Penjara dalam Kasus Pertambangan Liar yang Tidak Dilakukannya
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Manusia sebagai Pemimpin, Amanah dan Tanggung Jawab Kehidupan (Bagian 1)