Oleh: Munawir Kamaluddin
Pernahkah kita berdiri di depan cermin sebelum fajar, ketika kota atau dimana kita berdomisili masih terbungkus embun, lalu bertanya tanpa berkilah, apakah Garuda di dadaku hanya simbol di kain atau sudah menjadi denyut di nadi?
Apakah ia sekadar hiasan di dada, atau telah menuntun cara kita memandang tetangga, menilai lawan, dan memperlakukan yang lemah?
Ketika harga-harga menanjak dan kabar PHK mengetuk pintu-pintu, apakah hati kita ikut retak, atau kita menutup jendela agar rintihan tak masuk?
Jika ada dua jalan, satu jalan menguntungkan diriku saja, satu jalan menguatkan banyak orang, jalan mana yang kupilih saat tak seorang pun melihat?
Saat ada peluang kecil untuk culas, apakah aku mengajak akalku bersekongkol, atau kuperintahkan nuraniku berdiri?
Apakah kita sungguh percaya bahwa bangsa ini pulih ketika aku sendiri jujur, atau kita masih menunggu orang lain duluan?
Benarkah kita mencintai persatuan, sementara lidah kita gemar membelah dengan prasangka?
Ketika anak-anak di pulau terluar memikul tas robek demi meraih pelajaran, mengapa kita rela merobek harap mereka dengan kebijakan yang menguntungkan segelintir?
Saat pelangi kebinekaan hendak pudar, apakah kita menyalakan kembali warnanya, atau ikut meniupkan abu yang menggelapkan langit?
Garuda bukan sekadar lambang, ia adalah disiplin rasa. “Di dadaku” berarti ia tinggal di pusat keputusan, di ruang-ruang rapat, di meja kebijakan, di loket pelayanan, di kelas-kelas, di sawah-sawah, di pabrik-pabrik, di layar gawai dan dompet digital kita.
Garuda di dada adalah keberanian mengurangi jatah diri agar keadilan bertambah bagi banyak orang.
Itulah ruh pengorbanan yang diajarkan agama, dan Islam mengikatnya dengan simpul persatuan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (Āli ‘Imrān: 103)
Tetapi apa arti persatuan bila ia hanya dipakai untuk menambal baliho, sementara jurang sosial dibiarkan menganga?
Artikel Terkait
Bagaimana Jika Orang Bodoh Diberi Kuasa Mengelola Negara?
Wakil Bupati Lombok Tengah Apresiasi PC Development atas Program Pemberdayaan Berkelanjutan di Desa Sukarara
Mahasiswa KKN Hidupkan Semangat Literasi, Sukajadi Resmi Miliki Duta Literasi
Filosofi Cinta Menurut Pandangan Sufi, Menyibak Tirai Ketuhanan di Era Kekosongan Makna
Kesalehan yang Terlupakan di Tengah Modernitas
Kehidupan Makin Timpang, NU Penyeimbang?
Kisah Ibnu Harjo, Sang Ulama Tersembunyi
Mutiara Pagi: Kembali ke Nol (Bagian 1942)
HUT RI ke-80, Jalan Santai dan Karnaval Bumi Marhamah Cianjur Disambut Meriah Warga
Mutiara Pagi: Hukum sebagai Panglima (Bagian 1943)