Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 25 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Warga RW 07 Magersari, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, membentangan Bendera Merah Putih sepanjang 170 Meter. (suaramerdeka.com/Surya Yuli)
Warga RW 07 Magersari, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, membentangan Bendera Merah Putih sepanjang 170 Meter. (suaramerdeka.com/Surya Yuli)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Pernahkah kita berdiri di depan cermin sebelum fajar, ketika kota atau dimana kita berdomisili masih terbungkus embun, lalu bertanya tanpa berkilah, apakah Garuda di dadaku hanya simbol di kain atau sudah menjadi denyut di nadi?

Apakah ia sekadar hiasan di dada, atau telah menuntun cara kita memandang tetangga, menilai lawan, dan memperlakukan yang lemah?

Ketika harga-harga menanjak dan kabar PHK mengetuk pintu-pintu, apakah hati kita ikut retak, atau kita menutup jendela agar rintihan tak masuk?

Jika ada dua jalan, satu jalan menguntungkan diriku saja, satu jalan menguatkan banyak orang, jalan mana yang kupilih saat tak seorang pun melihat?

Saat ada peluang kecil untuk culas, apakah aku mengajak akalku bersekongkol, atau kuperintahkan nuraniku berdiri?

Apakah kita sungguh percaya bahwa bangsa ini pulih ketika aku sendiri jujur, atau kita masih menunggu orang lain duluan?

Benarkah kita mencintai persatuan, sementara lidah kita gemar membelah dengan prasangka?

Ketika anak-anak di pulau terluar memikul tas robek demi meraih pelajaran, mengapa kita rela merobek harap mereka dengan kebijakan yang menguntungkan segelintir?

Saat pelangi kebinekaan hendak pudar, apakah kita menyalakan kembali warnanya, atau ikut meniupkan abu yang menggelapkan langit?

Garuda bukan sekadar lambang, ia adalah disiplin rasa. “Di dadaku” berarti ia tinggal di pusat keputusan, di ruang-ruang rapat, di meja kebijakan, di loket pelayanan, di kelas-kelas, di sawah-sawah, di pabrik-pabrik, di layar gawai dan dompet digital kita.

Garuda di dada adalah keberanian mengurangi jatah diri agar keadilan bertambah bagi banyak orang.

Itulah ruh pengorbanan yang diajarkan agama, dan Islam mengikatnya dengan simpul persatuan:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (Āli ‘Imrān: 103)

Tetapi apa arti persatuan bila ia hanya dipakai untuk menambal baliho, sementara jurang sosial dibiarkan menganga?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X