Oleh: T@ns Gr Pd.
Bosan seringkali dipandang sebagai gejala hati yang kosong, bukan semata-mata hukum ekonomi.
Teori Gossen, yang terkenal dengan Hukum Gossen I dan II, sering kali digunakan untuk menjelaskan penurunan utilitas marjinal artinya, kepuasan kita terhadap suatu barang cenderung menurun seiring bertambahnya jumlah konsumsi.
Namun, dari perspektif yang lebih mendalam, ada kritik mendasar yang bisa diajukan terhadap pandangan ini.
Manusia bukanlah mesin konsumsi. Kita adalah penjaga makna, pencari berkah, dan hamba dari Sang Pemberi.
Dalam ekonomi nafsu, segala sesuatu cepat terasa basi. Sebaliknya, dalam ekonomi fitrah, setiap hal bisa menjadi berkah.
Kepuasan menurun jika hanya dinikmati, tetapi meningkat jika dimaknai.
Bosan melihat nikmat yang menurun, tapi syukur melihat berkah yang bertambah.
Hukum Gossen berkata: cari yang baru. Hukum fitrah berkata: hayati yang ada.
Saat dunia ditakar dengan rasa bosan, tidak ada ciptaan yang terasa cukup. Namun, ketika hati diisi dengan syukur, segenggam remah pun bisa terasa seperti surga.
Ekonomi syukur bukan tentang menumpuk harta, tetapi tentang meresapi. Bukan tentang terus berganti, tetapi tentang menghidupi dan memaknai apa yang sudah kita miliki.
Pada dasarnya, Gossen tidak sepenuhnya keliru. Ia hanya lupa bahwa manusia memiliki ruh, bukan sekadar perut.
Gossen membaca kebutuhan perut manusia, sedangkan fitrah manusia membaca kebutuhan jiwanya.
Artikel Terkait
Kesalehan yang Terlupakan di Tengah Modernitas
Kehidupan Makin Timpang, NU Penyeimbang?
Kisah Ibnu Harjo, Sang Ulama Tersembunyi
Mutiara Pagi: Kembali ke Nol (Bagian 1942)
HUT RI ke-80, Jalan Santai dan Karnaval Bumi Marhamah Cianjur Disambut Meriah Warga
KH Hasyim Asyari
Mutiara Pagi: Hukum sebagai Panglima (Bagian 1943)
Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela
Umar bin Abdul Aziz dan Pajak
Mutiara Pagi: Di Tengah Bara Ketidakadilan (Bagian 1944)