Semakin Kacau Dunia, Indonesia Siap?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 2 Mei 2025 | 13:34 WIB
Ilustrasi Indonesia tepatnya di Jakarta. (freepik.com)
Ilustrasi Indonesia tepatnya di Jakarta. (freepik.com)

Oleh: Radhar Tribaskoro

Komite Eksekutif Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia

Dunia yang kita kenal telah mengalami transformasi signifikan. Setelah lebih dari tiga dekade pasca-Perang Dingin, arah global tampak menuju keterbukaan yang lebih luas, ditandai dengan pesatnya perdagangan lintas batas, konektivitas teknologi global, dan demokrasi liberal sebagai aspirasi bersama. Namun, kini kita menyaksikan pergeseran fundamental.

Era globalisasi yang dulunya dianggap tak terhindarkan kini menunjukkan keretakan. Negara-negara besar semakin memprioritaskan kepentingan domestik. Proteksionisme menggantikan perdagangan bebas, dan kerja sama multilateral yang sebelumnya solid mulai terkikis oleh rivalitas geopolitik yang intens.

Visi "Fortress America" dari Scott Bessent mencerminkan keseriusan perubahan ini, dan fenomena serupa tidak terbatas pada Amerika Serikat. Dunia secara keseluruhan bergerak menuju multipolaritas, proteksionisme, dan fragmentasi.

Perubahan global ini bukan sekadar kajian akademis bagi Indonesia; ia membawa konsekuensi nyata bagi perekonomian, keamanan, dan masa depan bangsa. Pertanyaan krusialnya adalah: seberapa siapkah Indonesia menghadapinya?

Multipolaritas: Dunia Tanpa Hegemoni Tunggal

Multipolaritas menandakan berakhirnya dominasi satu kekuatan besar seperti Amerika Serikat pasca-Perang Dingin. Kekuatan global kini tersebar di berbagai kutub, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Uni Eropa, India, Rusia, serta kekuatan regional seperti Turki dan Brasil yang semakin berperan.

Implikasinya bagi Indonesia adalah kompleksitas hubungan luar negeri yang meningkat. Diplomasi yang dulu relatif sederhana dengan berorientasi pada satu kekuatan kini menuntut navigasi yang cermat di antara berbagai kekuatan yang dinamis, terkadang berkoalisi dan terkadang bersaing.

Indonesia perlu mengembangkan diplomasi multipolar yang cerdas, tidak terpaku pada satu mitra, melainkan membangun jaringan kerja sama yang luas. Hubungan baik dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama harus dipertahankan, namun kemitraan strategis dengan Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, India, dan Uni Eropa juga krusial. Multipolaritas menawarkan peluang, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan diplomatik.

Prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia sejak awal kemerdekaan kembali relevan. Namun, pelaksanaannya kali ini membutuhkan kecerdasan taktis yang lebih tinggi mengingat lanskap global yang jauh lebih dinamis.

Proteksionisme: Dunia yang Semakin Tertutup

Era globalisasi ditandai dengan kompetisi negara-negara membuka pasar, menurunkan tarif, dan mendorong pertumbuhan melalui perdagangan internasional. Namun, arah angin kini berbalik.

Amerika Serikat, yang dulunya menjadi motor perdagangan bebas, kini menerapkan tarif tinggi untuk melindungi industri domestiknya, terutama terhadap Tiongkok. Eropa memperketat standar teknis dan lingkungan yang berpotensi menjadi hambatan non-tarif. Bahkan Tiongkok, di balik retorika pro-globalisasi, terus melindungi berbagai sektor domestiknya dari persaingan asing.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X