Hari Pendidikan Nasional: Antara Idealisme dan Komersialisasi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 2 Mei 2025 | 10:13 WIB

Journalnusantara.com, Cianjur – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei bukan sekadar mengenang jasa Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara. Lebih dari itu, momen ini menjadi refleksi atas arah dan makna pendidikan di Indonesia yang kini menghadapi tantangan antara idealisme dan komersialisasi.

Ketua Harian DPD KNPI Cianjur, Muhammad Fajar Firdaus, yang akrab disapa Ajay, menyoroti fenomena maraknya bisnis di sektor pendidikan dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari bimbingan belajar, pelatihan daring, hingga platform teknologi edukasi tumbuh pesat di tengah tingginya animo masyarakat terhadap pendidikan.

“Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa minat terhadap pendidikan tinggi. Tapi di sisi lain, kita perlu bertanya: apakah pendidikan masih menjadi ladang pengabdian atau justru berubah menjadi ladang komersialisasi?” ujar Ajay.

Ia menilai, tingginya biaya masuk sekolah, kursus privat berbayar, dan konten belajar berlangganan menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan berkualitas kini tidak lagi merata. “Mereka yang punya kemampuan finansial bisa membeli fasilitas terbaik, sementara yang tidak mampu tertinggal dalam persaingan,” imbuh Ajay.

Menurut Ajay, kondisi ini bertolak belakang dengan semangat Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, bukan hak istimewa segelintir orang.

Meski demikian, Ajay menekankan bahwa tidak semua bentuk bisnis pendidikan perlu dicurigai. “Selama dijalankan dengan prinsip keadilan, kualitas, dan keterjangkauan, bisnis pendidikan justru bisa memperluas akses dan mendorong inovasi,” katanya.

Ia memberi contoh pemanfaatan teknologi yang dapat menjangkau siswa di daerah terpencil. “Kuncinya adalah menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas kepentingan profit,” tambah Ajay.

Ajay mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Hari Pendidikan Nasional sebagai momen evaluasi. “Apakah kita ingin mencetak generasi cerdas demi masa depan bangsa, atau hanya membentuk pasar baru untuk kepentingan ekonomi?” tegasnya.

Ia menutup pernyataan dengan mengingatkan bahwa pendidikan boleh berkembang secara profesional dan efisien, namun tetap harus berlandaskan pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang beradab, bukan sekadar konsumen.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB

Yang Harus Digali DPRD Cianjur atas Raperda P2APBD

Minggu, 28 Juni 2026 | 09:30 WIB
X