"Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya kepada tetangganya" (HR. Ahmad)
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Percikan Iman/ journalnusantara.com - Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna yang Tuhan ciptakan, karena ia dianugerahi akal pikiran dan hati nurani. Kemuliaan manusia dapat melebihi kehebatan Malaikat, pun demikian sebaliknya kebusukan manusia dapat menghinakan dirinya lebih rendah daripada hewan.
Kesempurnaan dan kemuliaan seorang manusia termanifestasikan melalui interaksi sosial dalam wujud silaturahmi, membuaka ruang komunikasi positif satu dengan yang lainnya, dan yang paling penting adalah menjaga keharmonisan hidup bertetangga. Karena kita mahluk sosial yang tak bisa lepas dari peran mahluk lain di bumi ini, tidak terkecuali peran tetangga dalam menjalani hidup ini.
Tetangga adalah orang lain yang tidak satu nasab dengan kita. Namun ia paling dekat dan paling tahu siapa diri kita yang sesungguhnya di tengah masyarakat. Bagaimana karakter kita, status sosial kita, profesi kita, utang piutang kita, dan baik buruknya kita dg orang lain di lingkungan tempat tinggal, tetangga pastinya sangat tahu.
Ketika ada kesulitan hidup, musibah, sakit dan bahkan kematian sekalipun, tetangga adalah pihak yang pertama akan direpotkan dan dimintai pertolongan, bukan saudara jauh atau bahkan bukan teman jauh yang akan direpotkan molehmu, melainkan tetanggamu sendiri yang terkadang kita abaikan dan kita anggap sepele keberadaannya.
Merekalah, yang kita panggil sebagai tetangga, orang-orang yang ada di seberang rumahmu, di belakang rumahmu, dipinggir kiri dan kanan rumahmu yang hanya terhalang tembok sejarak 10 cm saja. Lantas mengapa kita harus bersusah payah, berkarib dengan orang lain yang jauh, berjarak puluhan bahkan ratusan kilometer dari tempat tinggalmu sendiri.
Orang-orang nun jauh itu, mereka yang engkau anggap temanmu, sahabatmu, bestiemu, yakinilah bahwa mereka belum tentu peduli dan belum tentu tahu ketika engkau dan keluargamu tertimpa musibah dan hidup dalam kesulitan.
Akan tetapi justeru tetangga dekatmulah yang pasti akan engkau repotkan, yang akan kau mintai pertolongan bukan kawan-kawan jauhmu, bukan teman-teman sosialitamu yang keranjingan selfi dan narsistik bahkan eksibisonis yang akan pertama kali melakjkan pertolongan pertama padamu, pada keluargamu itu. Oleh karena itu sadrlah wahai Saudaraku, hiduplah bertetangga dengan sehat dan pergauli mereka dengan kasih sayang dan kehormatan.
Berkumpul denan tetangga itu sehat, bercengkrama dengan tetangga itu sehat, bertegur sapa dengan tetanggamu itu sehat, makan bersama dengan sesama tetanggamu itu sehat, bersilaturahmi dengan sesama tetanggamu itu sehat dan memuliakan. Sebaliknya, hidup menyendiri dan terasing dalam lingkungan sosial itu sakit dan menghinakan, tidak bergaul dengan tetangga itu sakit, tidak bertegur sapa dengan tetangga itu naif, merasa diri paling kaya itu nora, merasa diri tak perlu dengan tetangga itu hina.
Karena kelak engkau akan merasakan pedihnya kematian, nyawa terlepas dari jasadmu yang rapuh, maka tetanggalah yang akan turut mengantarkanmu ke tanah pemakaman yang hening, sepi dan menakutkan itu.
Artikel Terkait
Keindahan Alam Tersembunyi di Cianjur, Surga Wisata yang Patut Dijelajahi
Mengapa Populasi Muslim Indonesia Mandeg?
MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari)
Mutiara Pagi: Lukisan Tuhan (Bagian 1814)
Amalan Hari Jumat, Meraih Keberkahan di Hari yang Mulia
Menjaga Shalat Malam, Kunci Ketenangan dan Kedekatan dengan Allah
Menjadi Influencer, Antara Popularitas dan Tanggung Jawab
Koalisi Cianjur Progresif Hidupkan Budaya Kritis Mahasiswa Lewat Majelis Pikiran Bebas di UNPI Cianjur
DKM Al-Faidah Gading Asri Desa Bojong Gelar Pelatihan Jurnalisme Islami, Bekali Da'i dengan Strategi Dakwah
Warga Blok F Gading Asri Desa Bojong Halal Bil Halal dan Maksi, Umi Jibril : InshaAllah Berkah dan Maslahah