Oleh: Abdul Arif
Indonesia bukan lagi populasi muslim terbesar di dunia setelah disalip Pakistan.
Mengapa populasi muslim di Indonesia mandeg di tengah perkembangan pesat komunitas muslim di Eropa, China, Jepang, dan Amerika?
Banyak faktor. Butuh penelitian untuk menemukan faktor-faktor penyebab kemandegannya.
Hipotesisku, beberapa faktor ini bisa jadi penyebabnya:
Islam di Indonesia mengalami kemandegan dibanding era 1980–1990-an.
Tokoh-tokoh muslim mengalami kemunduran kualitas ketokohan dibanding dua era di atas.
Ketertarikan generasi milenial dan Gen Z terhadap Islam tak sebesar ketertarikan generasi boomer dan Gen X.
Hype di dunia muslim era 2000-an tak secemerlang hype di dua dekade sebelumnya pascarevolusi Iran 1979.
Label teroris-radikal-fundamental ikut mempengaruhi persepsi publik terhadap wajah Islam secara umum.
Tidak muncul pemikir-pemikir baru muslim dengan pemikiran segar yang mempesona publik.
Era media sosial kurang digunakan secara efektif oleh para pendakwah Islam, sehingga medsos lebih berwajah “sekuler”.
Ormas-ormas Islam terkemuka banyak memperlihatkan perilaku yang tidak populer di mata publik, bahkan bagi umat muslim sendiri dalam relasi kekuasaan dan relasi ekonomi, seperti hubungan yang diwarnai konsesi-konsesi, dengan kevakuman mereka menyuarakan kepentingan publik yang diduga sebagai harganya.
Tapi jika sejarah itu merupakan siklus, Islam berpeluang menemukan peran pentingnya kembali ketika momentum itu datang.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Tidak Ada yang Diam (Bagian 1811)
Dari "Petani Gabah", Menuju "Petani Beras"
Tadarus Ayat-Ayat Pendidikan
Transcontinental Countries: Negara yang Wilayah Geografisnya Berada di Dua Benua atau Lebih
Upah Rendah Pekerja Cianjur: Realita yang Masih Menghimpit
Mutiara Pagi: Mimpi (Bagian 1812)
Bagaimana Indonesia di Mata Orang Asing (Bedakan Negara dan Rakyat)?
Ijazah, Hal Remeh Tapi Berdampak Besar
Mengenal Muhammad Arif Nuryanta, Hakim Terpeleset Suap Rp60 Miliar
Sejarah Mudik