Evolusi Telkom Lewat Strategi TLKM 30: Cetak Laba Bersih Rp 17,8 Triliun dan Perkuat Fundamental Digital

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Rabu, 13 Mei 2026 | 06:08 WIB
Telkom cetak laba bersih Rp 17,8 Triliun. (FOTO: Ist)
Telkom cetak laba bersih Rp 17,8 Triliun. (FOTO: Ist)

JOURNALNUSANTARA.COM, JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berhasil menuntaskan tahun buku 2025 dengan capaian kinerja yang solid di tengah percepatan transformasi perusahaan.

Emiten telekomunikasi berkode saham TLKM ini membukukan laba bersih sebesar Rp 17,8 triliun dengan margin laba bersih mencapai 12,1 persen. Jika melihat pada angka laba bersih yang dinormalisasi, perusahaan mencatatkan nilai Rp 22,7 triliun dengan margin sebesar 15,4 persen.

Perolehan laba tersebut ditopang oleh total pendapatan konsolidasi yang mencapai Rp 146,7 triliun sepanjang tahun 2025. Dari sisi operasional, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) konsolidasi tercatat sebesar Rp 72,2 triliun dengan margin 49,2 persen. Sementara itu, EBITDA yang dinormalisasi berada di angka Rp 73,2 triliun dengan margin yang terjaga di level 49,9 persen.

Keberhasilan eksekusi strategi transformasi juga memberikan dampak positif langsung bagi para pemegang saham. Telkom mencatat Total Shareholder Return (TSR) sebesar 35,7 persen, yang dikontribusi oleh kenaikan harga saham (capital gain) sebesar 28,4 persen serta imbal hasil dividen (dividend yield) sebesar 7,3 persen.

Kepercayaan pasar ini diperkuat dengan kebijakan rasio pembayaran dividen sebesar 89 persen serta aksi pembelian kembali saham (share buyback) senilai maksimal Rp 3 triliun yang masih berjalan hingga tahun depan.

Menghadapi dinamika ekonomi makro dan pergeseran industri telekomunikasi, perusahaan terus memacu agenda transformasi melalui peta jalan TLKM 30.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, menegaskan bahwa eksekusi strategi transformasi telah menjadi fokus utama perseroan sejak 2025. “Lewat strategi TLKM 30, Telkom memantapkan arah transformasi yang lebih terstruktur untuk mengakselerasi terwujudnya visi sebagai penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global, sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.”

Dalam implementasi pilar pertama, yaitu Operational & Service Excellence, Telkom memperketat tata kelola dan efisiensi organisasi demi meningkatkan pengalaman pelanggan.

Pilar kedua berfokus pada perampingan (streamlining) bisnis non-inti agar perusahaan lebih lincah menggarap bisnis utama di sektor digital. Salah satu langkah konkretnya adalah pelepasan aset AdMedika dan TelkoMedika yang ditargetkan tuntas sepenuhnya pada pertengahan 2026.

Upaya peningkatan nilai (unlock value) menjadi pilar ketiga yang menyasar optimalisasi infrastruktur digital, terutama konektivitas serat optik (fiber). Proses pemisahan aset Wholesale Fiber Connectivity ke entitas InfraNexia telah dimulai sejak akhir 2025 melalui perjanjian spin-off.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari transisi Telkom menuju perusahaan induk strategis (strategic holding) yang lebih fokus pada penciptaan nilai jangka panjang.

Pada pilar keempat, Telkom melakukan pergeseran model operasional dari operating holding menjadi strategic holding melalui proses delayering. Struktur organisasi kini dipertajam ke dalam empat segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Restrukturisasi ini bertujuan untuk menghilangkan tumpang tindih lini bisnis serta menciptakan sinergi yang lebih harmonis antar entitas di bawah naungan TelkomGroup.

Selain transformasi bisnis, perusahaan juga melakukan penyesuaian pada kebijakan akuntansi sesuai mandat Danantara Indonesia mengenai pembersihan tata kelola secara menyeluruh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X