Muswil VII KAHMI Jabar 2026 Tetapkan Lima Presidium MW FORHATI Periode 2026–2031

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Senin, 10 Agustus 2026 | 16:20 WIB
Foto : Musyawarah Wilayah (MUSWIL) VII KAHMI Jawa Barat Tahun 2026 menetapkan lima Presidium Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (MW FORHATI) Jawa Barat periode 2026–2031. Penetapan tersebut berlangsung dalam sidang pleno MUSWIL VII yang digelar di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung.
Foto : Musyawarah Wilayah (MUSWIL) VII KAHMI Jawa Barat Tahun 2026 menetapkan lima Presidium Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (MW FORHATI) Jawa Barat periode 2026–2031. Penetapan tersebut berlangsung dalam sidang pleno MUSWIL VII yang digelar di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung.

JournalNusantara.com/ BANDUNG - Musyawarah Wilayah (MUSWIL) VII KAHMI Jawa Barat Tahun 2026 menetapkan lima Presidium Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (MW FORHATI) Jawa Barat periode 2026–2031. Penetapan tersebut berlangsung dalam sidang pleno MUSWIL VII yang digelar di Grand Asrilia Hotel, Kota Bandung.

Lima nama yang dipercaya mengemban amanah kepemimpinan MW FORHATI Jawa Barat untuk lima tahun ke depan adalah Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag. dari Kabupaten Bandung sebagai Koordinator Presidium, Dr. Hj. Mela Rusdiana, M.Pd.I dari Bekasi, Hj. Retno Ernawati, S.Sos., MM., dari Sumedang, Sri Wulan, M.Pd., dari Ciamis, serta Dr. Hj. Thoriqoh Nashrullah Fitriyah, S.T., M.E.Sy. dari Kabupaten Bandung.

Terpilihnya lima presidium tersebut bukan semata-mata pergantian struktur kepemimpinan organisasi, melainkan momentum untuk menegaskan kembali posisi strategis FORHATI dalam membangun gerakan perempuan yang berakar pada nilai-nilai keislaman, keindonesiaan, intelektualitas, dan keberpihakan terhadap kemajuan masyarakat.

Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, gerakan HMI-Wati menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa-masa sebelumnya. Perempuan tidak lagi cukup ditempatkan sebagai objek pembangunan, tetapi harus tampil sebagai subjek yang memiliki kapasitas intelektual, kepemimpinan, kemandirian ekonomi, serta kemampuan membaca perubahan zaman.

Baca Juga: Tak Cukup Video, Widhiyarini Datangi Orang Tua Yurizal untuk Minta Maaf Langsung: Bukan Maksud Saya Melakukan Itu

Karena itu, agenda FORHATI Jawa Barat periode 2026–2031 dituntut bergerak dari sekadar konsolidasi organisasi menuju transformasi keumatan di bidang keperempuan. Transformasi tersebut harus diterjemahkan ke dalam gerakan nyata yang mampu menjawab persoalan perempuan, keluarga, pendidikan, ekonomi, politik kebangsaan, teknologi digital, lingkungan, hingga penguatan moderasi beragama.

Transformasi keumatan pada akhirnya bukan sekadar slogan. Ia merupakan proses mengubah kesadaran menjadi gerakan, pengetahuan menjadi kebermanfaatan, dan potensi perempuan menjadi kekuatan sosial yang mampu memberi kontribusi terhadap pembangunan peradaban.

Dalam konteks Jawa Barat, FORHATI memiliki posisi strategis karena memiliki jaringan alumni HMI-Wati yang tersebar di berbagai bidang kehidupan. Mereka hadir sebagai akademisi, birokrat, politisi, profesional, pengusaha, aktivis, pendidik, tokoh masyarakat, serta penggerak berbagai komunitas sosial-keagamaan.

Potensi tersebut merupakan modal sosial yang besar. Tantangannya adalah bagaimana modal sosial itu dikonsolidasikan menjadi kekuatan kolektif yang terarah, produktif, dan transformatif.

Kepemimpinan MW FORHATI Jawa Barat yang baru ini, semoga menjadi katalisator gerakan perempuan menuju gerakan peradaban. Kepemimpinan baru MW FORHATI Jawa Barat diharapkan mampu membangun paradigma bahwa perjuangan perempuan bukan sekadar perjuangan sektoral, melainkan bagian integral dari perjuangan membangun peradaban.

Baca Juga: FOKSI Cianjur Tindak Lanjuti Laporan Masyarakat, Persoalan dengan SPPG Garuda Mandiri Diselesaikan Secara Musyawarah

Perempuan memiliki posisi penting dalam membentuk kualitas keluarga, pendidikan generasi, kebudayaan, ekonomi, dan kehidupan sosial. Karena itu, memperkuat perempuan berarti memperkuat fondasi masyarakat. Sebaliknya, mengabaikan potensi perempuan berarti membiarkan sebagian besar energi sosial bangsa berjalan tanpa arah strategis.

Di sinilah gagasan "Transformasi Keumatan Menuju Jawa Barat Istimewa" menemukan relevansinya. Transformasi harus dimulai dari penguatan kualitas manusia, terutama perempuan yang memiliki kapasitas untuk menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.

FORHATI Jawa Barat ke depan diharapkan tidak hanya menjadi ruang silaturahmi alumni HMI-Wati, tetapi berkembang menjadi rumah besar intelektual dan gerakan perempuan Muslimah yang mampu memproduksi gagasan, membangun jejaring, melahirkan program strategis, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat dan masyarakat.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Diantar Sosiologi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X