Prof Yosy Adiwisastra Tegaskan Riset Akademis Wajib Jadi Solusi Nyata Pelayanan Publik

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 8 Juni 2026 | 16:51 WIB
Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. H. Yosy Adiwisastra. (FOTO: Ist)
Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. H. Yosy Adiwisastra. (FOTO: Ist)

Prof. Yosy juga meluruskan persepsi umum yang kerap keliru dalam memaknai sebuah teori. Ia menerangkan bahwa teori setidaknya memiliki tiga dimensi definisi, yakni sebagai representasi hubungan kausalitas sebab-akibat, sebagai sebuah paradigma berpikir, serta sebagai bagian dari rumpun ilmu yang berpijak pada fondasi ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Menilik dari kacamata Ilmu Pemerintahan, Prof. Yosy mengutip tesis mendiang Prof. Taliziduhu Ndraha yang menempatkan sektor pelayanan publik sebagai hilir akhir dari seluruh rangkaian roda pemerintahan. Baginya, esensi dari ilmu pemerintahan bertumpu pada interaksi timbal balik antara otoritas yang memimpin dengan rakyat yang dipimpin demi menghadirkan pelayanan terbaik.

“Apapun kajiannya, ujungnya harus pada pelayanan publik. Bagaimana masyarakat mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat, dan berkualitas,” tegasnya.

Ia pun menambahkan bahwa diskursus mengenai tata kelola pemerintahan tidak melulu menjadi monopoli rumpun Ilmu Pemerintahan semata, lantas turut menjadi domain pembahasan dalam studi Administrasi Publik, Ilmu Politik, Hukum Tata Negara, hingga Sosiologi Pemerintahan.

Di luar persoalan teori dan metodologi riset, Prof. Yosy menaruh perhatian besar pada variabel budaya organisasi dalam menentukan keberhasilan mutu pelayanan publik. Ia menilai, kapabilitas sumber daya manusia yang mumpuni berpotensi sia-sia jika tidak diwadahi oleh ekosistem kerja organisasi yang sehat.

Karakteristik budaya organisasi di dalam tubuh birokrasi, lanjutnya, memegang kendali penuh terhadap ritme kecepatan dan ketepatan layanan yang diterima oleh warga. Oleh sebab itu, jajaran birokrasi diwanti-wanti agar tidak terperosok dalam pola kerja konvensional yang lamban dan kurang peka terhadap ekspektasi publik.

“Budaya organisasi menentukan apakah pelayanan publik dapat berjalan secara cepat dan tepat atau justru berjalan lambat. Karena itu aspek budaya organisasi tidak boleh diabaikan dalam penelitian maupun praktik pemerintahan,” tuturnya.

Menutup arahannya, Prof. Yosy menyelipkan pesan filosofis terkait esensi dari sebuah institusi pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi mengemban mandat besar untuk melahirkan jajaran SDM yang cakap secara profesional, adaptif terhadap inovasi, sekaligus memiliki integritas karakter yang kuat.

Ia menegaskan bahwa kecemerlangan intelektual yang tidak dibarengi dengan nilai kejujuran justru tidak akan membawa maslahat bagi kehidupan berbangsa. Dengan demikian, penanaman pilar karakter wajib berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi teknis.

Dia juga menggarisbawahi bahwa validitas kebenaran ilmiah hanya bisa digapai melalui perpaduan harmonis antara keakuratan data lapangan, ketajaman landasan teori, serta penalaran logika yang rasional. Ketiga pilar ini harus berkelindan erat agar sebuah produk ilmiah dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

Melalui penyelenggaraan forum FGD ini, keluaran riset disertasi yang tengah berjalan diharapkan mampu memberikan sumbangsih nyata dalam mendongkrak mutu pelayanan dokumen kependudukan di Kabupaten Cianjur.

Di samping itu, hasil kajian ini diproyeksikan menjadi rujukan ilmiah bernilai strategis dalam mendukung akselerasi digitalisasi pemerintahan dan pembenahan pelayanan publik di masa depan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X