Dari Keterbatasan dan Keraguan, Menumbuhkan Harapan Baru bagi Kelestarian Lingkungan

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Senin, 8 Juni 2026 | 13:15 WIB
Mohamad Imam Sobirin. (FOTO: Ist)
Mohamad Imam Sobirin. (FOTO: Ist)

Penulis: Mohamad Imam Sobirin

Kalimat itu menjadi pegangan hidup saya sejak masa SMA, ketika roda kehidupan berputar drastis. Kematian ayah saat saya menduduki kelas XII mengubah cara saya memandang pendidikan. Sekolah bukan lagi sekadar pilihan masa depan, melainkan risiko nyata yang harus diperhitungkan dengan matang. Situasi kian pelik saat pandemi Covid-19 menghantam dan memperburuk kondisi keuangan keluarga. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, dengan adik yang masih duduk di kelas 3 SD dan ibu yang tidak memiliki pekerjaan tetap, keraguan besar menyergap: pantaskah saya bermimpi tentang pendidikan tinggi?

Keraguan itu kian dipertebal oleh komentar tetangga yang mencibir bahwa kuliah jauh-jauh hanya akan menghabiskan uang tanpa tujuan yang jelas. Di titik itulah, saya merasakan bagaimana keterbatasan materi seolah mampu mengunci masa depan seseorang bahkan sebelum ia sempat mencoba. Namun, justru di tengah impitan tersebut, saya menemukan alasan paling kuat untuk terus berjalan menggapai cita-cita. Saya memilih untuk tetap melanjutkan studi di Bidang Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan keyakinan penuh bahwa kapasitas akademik adalah modal utama untuk keluar dari kerentanan struktural.

Perkenalkan, nama saya Mohamad Imam Sobirin, berasal dari Desa Tamanan, Kota Kediri, Jawa Timur. Saya meyakini bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan alasan kuat untuk berusaha lebih keras. Bagi saya, pendidikan menjadi bukti nyata untuk mengubah keadaan. Berbekal strategi memburu beasiswa, keputusan tersebut membawa saya diterima di Program Studi Kehutanan UGM melalui bantuan Beasiswa Bidikmisi. Perjuangan itu berbuah manis ketika pada tahun 2024, saya berhasil lulus sebagai wisudawan tercepat dan terbaik di Departemen Silvikultur dengan masa studi 3 tahun 4 bulan serta predikat Cumlaude lewat IPK 3,74. Kelulusan ini menjadi titik balik penting bagi hidup saya untuk berkontribusi nyata terhadap keberlanjutan kelestarian hutan dan lingkungan hidup.

Bagi saya pribadi, kelulusan tidak berarti akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik awal untuk mengubah kesempatan pendidikan menjadi kontribusi konkret. Sejak awal, saya memahami bahwa ilmu kehutanan bukan sekadar urusan menanam pohon, melainkan sebuah interaksi kompleks antara lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat. Pemahaman ini mendorong saya untuk aktif dalam berbagai kegiatan yang melatih kepekaan sosial, pemecahan masalah, dan kepemimpinan.

Pada semester awal perkuliahan, saya memimpin tim lintas fakultas dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul Pengembangan Eco Value Waste untuk Pengelolaan Sampah Daerah Sungai Perkotaan. Berangkat dari keresahan masyarakat terhadap penumpukan sampah di sungai beserta dampaknya secara fisik, sosial, dan ekonomi, gagasan tersebut hadir sebagai alternatif solusi rekomendasi penanggulangan sampah. Tantangan utamanya adalah mengkoordinasikan tim secara daring di tengah pandemi Covid-19 dengan latar belakang keilmuan yang berbeda. Pengalaman ini membentuk saya menjadi pribadi yang berani memimpin di tengah keterbatasan, adaptif terhadap perubahan cepat, terampil menjaga semangat kolaborasi, serta memastikan tujuan kerja tetap jelas. Di sana saya belajar bahwa pemimpin adalah orang yang mampu menjaga arah, membangun kerja sama, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan bertanggung jawab penuh pada proses.

Memasuki semester empat hingga enam, saya kembali dipercaya terlibat dalam pemberdayaan Wanita Tani Desa Hutan melalui pengolahan potensi lokal pohon melinjo menjadi produk UMKM berbasis sociopreneurship bernama Tropical Fruit Flavors Emping Melinjo. Lewat kegiatan ini, para wanita tani mampu mengembangkan potensi alam lokal menjadi produk camilan unggulan yang siap dipasarkan melalui media sosial. Program ini didukung penuh melalui skema pendanaan pengabdi masyarakat dari Kemendikbudristek. Walaupun program ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, pengalaman tersebut mengajarkan saya cara mengelola ekspektasi, mengevaluasi strategi, dan menjaga amanah.

Tak berhenti di situ, saya kemudian mencoba gagasan lain di bidang pengelolaan limbah lewat inovasi berjudul BRIKET: Pemanfaatan Limbah Agroindustri untuk Mendukung Ekonomi Sirkular, yang berhasil meraih Juara 5. Kontribusi ini mendukung pemanfaatan potensi limbah agroindustri yang melimpah di Indonesia menjadi produk siap pakai secara langsung di kedai dan kompor rumah tangga sebagai upaya implementasi energi terbarukan. Dari rangkaian jatuh bangun ini, saya belajar arti evaluasi berkelanjutan, ketekunan, dan keberanian untuk terus berinovasi.

Di akhir masa studi, saya menjalankan misi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan mengabdi selama 50 hari di Desa Kimak, Bangka Belitung, sebagai Koordinator Sub Unit Desa. Di sana, saya menginisiasi gerakan penanaman seribu pohon di lahan terdegradasi menjadi lahan produktif perkebunan, program kampung iklim dalam kemandirian pengelolaan sampah menjadi barang berguna untuk perpustakaan desa, serta perencanaan konsep agroforestry dalam pengoptimalan lahan bernilai tambah ekonomi bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan keuangan, bahan, dan alat selama pengabdian, saya melibatkan multipihak melalui kolaborasi kampus, perusahaan, instansi pemerintah, dan masyarakat setempat.

Hasilnya, lahan terdegradasi di area embung yang sebelumnya sulit dimanfaatkan kini berubah menjadi lahan perkebunan tanaman buah. Selain itu, galon-galon yang semula dibuang begitu saja sekarang bisa dimanfaatkan menjadi dekorasi estetik untuk menghidupkan suasana belajar anak yang nyaman dan kondusif di Perpustakaan Desa Kimak. Keterbatasan yang saya hadapi tidak menghambat aksi dalam memberi dampak. Saya menanamkan prinsip bahwa seberapa banyak manfaat adalah seberapa jauh kontribusi dapat diimplementasikan untuk lingkungan sekitar, dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

Seiring berjalannya waktu, fokus kontribusi saya kini mengerucut pada isu reklamasi pertambangan. Saat ini, untuk mengembangkan solusi atas ilmu pengetahuan yang lebih komprehensif, saya terus menjadi pembelajar seumur hidup dengan melanjutkan Pendidikan Profesi Insinyur Kehutanan di UGM. Saya melihat bahwa di tengah hamparan lahan bekas tambang yang gersang dan kehilangan kehidupan, saya hadir sebagai orang yang memilih untuk tidak menyerah pada kerusakan alam. Saya mendedikasikan ilmu dan tenaga untuk mempercepat pemulihan ekosistem di kawasan lahan tambang terdegradasi. Bagi saya, lahan bekas tambang bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari sebuah harapan baru. Melalui berbagai kegiatan reklamasi berupa penanaman pohon, saya berupaya mengembalikan fungsi ekologis tanah yang telah lama kehilangan kesuburannya.

Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol optimisme bahwa alam memiliki kesempatan untuk pulih ketika manusia mau peduli dan bertindak. Perjuangannya tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran. Saya mengajak masyarakat, generasi muda, dan berbagai pihak untuk melihat bahwa pemulihan lingkungan adalah tanggung jawab bersama melalui ide konten kreatif untuk menyampaikan pesan peduli lingkungan supaya lebih menarik dan dapat diterima dengan baik oleh semua kalangan. Dengan pendekatan ilmiah yang dipadukan dengan aksi nyata di lapangan, saya membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menghadirkan perubahan besar bagi masa depan bumi.

Bagi saya, reklamasi bukan sekadar menanam vegetasi untuk menghijaukan kembali lahan. Lebih dari itu, reklamasi adalah upaya menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tambang. Kehadiran tutupan vegetasi yang semakin baik membantu memperbaiki kualitas lingkungan, mengurangi risiko erosi, meningkatkan daya dukung lahan, serta membuka peluang pemanfaatan lahan yang lebih produktif dan berkelanjutan di masa depan.

Di usia muda, saya ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu lahir dari panggung besar. Kepemimpinan juga tumbuh dari keberanian turun langsung ke lapangan, menyentuh tanah yang rusak, lalu menghidupkannya kembali dengan harapan dan kerja keras. Dulu, kalimat berawal atas keterbatasan dan keraguan telah menyelamatkan saya dari ketakutan untuk mengejar mimpi dan memberi dampak terhadap lingkungan sekitar. Saat ini, kalimat itu menjadi petunjuk arah untuk berkontribusi dan mengabdi di bidang lingkungan. Kisah ini menjadi inspirasi bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang dimulai dari satu pohon, satu langkah, dan satu tekad untuk mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang. Di tangan anak-anak muda, lahan yang pernah terluka dapat kembali menjadi ruang kehidupan yang hijau, produktif, dan berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Membaca Sebab (Bagian 2234)

Senin, 8 Juni 2026 | 09:22 WIB

Mutiara Pagi: Ikhtiar (Bagian 2230)

Kamis, 4 Juni 2026 | 06:52 WIB

Mutiara Pagi: Ucapan (Bagian 2229)

Rabu, 3 Juni 2026 | 07:00 WIB

Mutiara Pagi: Diam atau Bersuara (Bagian 2228)

Selasa, 2 Juni 2026 | 07:02 WIB

Mutiara Pagi: Ruang Perjumpaan (Bagian 2227)

Senin, 1 Juni 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan ( Bagian 2226)

Minggu, 31 Mei 2026 | 08:11 WIB

Mutiara Pagi: Logika (Bagian 2225)

Sabtu, 30 Mei 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Simfoni Kerinduan (Bagian 2224)

Jumat, 29 Mei 2026 | 06:30 WIB

Mutiara Pagi: Manusia Paripurna (Bagian 2223)

Kamis, 28 Mei 2026 | 07:17 WIB

Mutiara Pagi: Delapan Benda Langit (Bagian 2221)

Selasa, 26 Mei 2026 | 07:56 WIB

Mutiara Pagi: Musik dan Kehidupan (Bagian 2220)

Senin, 25 Mei 2026 | 07:45 WIB

Mutiara Pagi: Tangan Langit (Bagian 2219)

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:20 WIB

Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)

Sabtu, 23 Mei 2026 | 07:09 WIB
X