Sebelum lidah berbicara, tanyakan: apakah ini cahaya atau bara?
Sebelum jari mengetik, tanyakan: apakah ini pahala atau fitnah?
Jika setiap orang memilih kebenaran meski tidak menguntungkan, memilih diam ketika tak ada kebaikan, dan memilih klarifikasi saat ragu, maka bisnis kebohongan akan mati dengan sendirinya. Bangsa ini pun akan kembali mendapatkan keberkahannya.
Mari kita wariskan kepada anak-cucu bukan akun penyebar kebencian, melainkan hati yang terlatih untuk berkata jujur, meski pahit. Sebab kebenaran, pada akhirnya, adalah cermin yang memantulkan wajah sebuah bangsa yang terhormat.
Artikel Terkait
Refleksi Saeculum Obscurum Abad 10 di Eropa dengan Keadaan Indonesia Sekarang
Jembatan Nurani Bangsa, Prabowo dan Para Tokoh Senior Bertukar Pikiran di Istana
Mutiara Pagi: Sahabat yang Sederhana (Bagian 1962)
Kades Bubun Diterpa Isu Hoaks Proyek Fiktif, Badai Fitnah Menguji Kesabaran Pemimpin
PT EMP Gebang Bersama Warga Tapak Kuda Gelar Penanaman Pohon dan Mangrove
Tragedi Rawagede 1947, Darah yang Tumpah di Tanah Karawang
Akta Jual Beli (AJB): Syarat Wajib untuk Transaksi Properti yang Sah
Biaya Akta Jual Beli (AJB)
Belajar dari Empat Tokoh Antikorupsi Legendaris Indonesia
Papua Mulia