Penyebaran Berita Bohong dan Kebencian

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 14 September 2025 | 12:00 WIB
Didampingi pengacara Minola Sebayang, presenter Ruben Onsu melaporkan aku n yang menyebarkan berita bohong dan melakukan perundungan terhadap putrinya ke Polda Metro Jaya. (instagram @minola6000)
Didampingi pengacara Minola Sebayang, presenter Ruben Onsu melaporkan aku n yang menyebarkan berita bohong dan melakukan perundungan terhadap putrinya ke Polda Metro Jaya. (instagram @minola6000)

Oleh: Munawir Kamaluddin

Hari ini, gawai seakan menjadi kitab harian yang lebih sering dibuka daripada mushaf yang seharusnya menenangkan jiwa.

Dari layar kecil itu, lahirlah satu ironi yang menyayat nurani: sebuah industri gelap yang menjual kebohongan dan menanamkan kebencian.

Wajahnya bisa berupa jasa buzzer, akun bayaran, atau jaringan media yang sibuk meracik fitnah, menebar hoaks, dan memecah belah masyarakat. Semua dilakukan demi uang atau kekuasaan. Kebenaran ditukar dengan kepentingan, kehormatan manusia diperjualbelikan bak barang murah di pasar digital.

Betapa kejamnya perdagangan semacam ini—perdagangan yang menukar amanah dengan keuntungan sesaat.

Allah telah memperingatkan dengan tegas:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)

Ayat ini seolah menampar budaya klik, share, dan komentar yang menjadikan perhatian publik sebagai komoditas. Menjual kabar tanpa tahu kebenarannya bukan hanya tindakan bodoh, tapi juga menumpuk dosa kolektif.

Nabi SAW. bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang itu disebut pendusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Apalagi jika kebohongan itu bukan sekadar spontan, melainkan dijadikan bisnis, dirancang sistematis untuk menguntungkan pihak tertentu. Inilah yang oleh para ulama disebut al-kadhib al-muntazham—kebohongan yang terorganisir.

Sayyidina ‘Ali bin Abī Thālib pernah berkata:

الْكَذِبُ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ
“Dusta merusak iman sebagaimana cuka merusak madu.”

Kita kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi ada rezeki halal yang penuh berkah, di sisi lain ada jalan pintas berbalut dosa: bisnis kebohongan yang merusak ruh bangsa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X