Oleh: Munawir Kamaluddin
Hari ini, gawai seakan menjadi kitab harian yang lebih sering dibuka daripada mushaf yang seharusnya menenangkan jiwa.
Dari layar kecil itu, lahirlah satu ironi yang menyayat nurani: sebuah industri gelap yang menjual kebohongan dan menanamkan kebencian.
Wajahnya bisa berupa jasa buzzer, akun bayaran, atau jaringan media yang sibuk meracik fitnah, menebar hoaks, dan memecah belah masyarakat. Semua dilakukan demi uang atau kekuasaan. Kebenaran ditukar dengan kepentingan, kehormatan manusia diperjualbelikan bak barang murah di pasar digital.
Betapa kejamnya perdagangan semacam ini—perdagangan yang menukar amanah dengan keuntungan sesaat.
Allah telah memperingatkan dengan tegas:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’: 36)
Ayat ini seolah menampar budaya klik, share, dan komentar yang menjadikan perhatian publik sebagai komoditas. Menjual kabar tanpa tahu kebenarannya bukan hanya tindakan bodoh, tapi juga menumpuk dosa kolektif.
Nabi SAW. bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang itu disebut pendusta jika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim)
Apalagi jika kebohongan itu bukan sekadar spontan, melainkan dijadikan bisnis, dirancang sistematis untuk menguntungkan pihak tertentu. Inilah yang oleh para ulama disebut al-kadhib al-muntazham—kebohongan yang terorganisir.
Sayyidina ‘Ali bin Abī Thālib pernah berkata:
الْكَذِبُ يُفْسِدُ الْإِيمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ
“Dusta merusak iman sebagaimana cuka merusak madu.”
Kita kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi ada rezeki halal yang penuh berkah, di sisi lain ada jalan pintas berbalut dosa: bisnis kebohongan yang merusak ruh bangsa.
Artikel Terkait
Refleksi Saeculum Obscurum Abad 10 di Eropa dengan Keadaan Indonesia Sekarang
Jembatan Nurani Bangsa, Prabowo dan Para Tokoh Senior Bertukar Pikiran di Istana
Mutiara Pagi: Sahabat yang Sederhana (Bagian 1962)
Kades Bubun Diterpa Isu Hoaks Proyek Fiktif, Badai Fitnah Menguji Kesabaran Pemimpin
PT EMP Gebang Bersama Warga Tapak Kuda Gelar Penanaman Pohon dan Mangrove
Tragedi Rawagede 1947, Darah yang Tumpah di Tanah Karawang
Akta Jual Beli (AJB): Syarat Wajib untuk Transaksi Properti yang Sah
Biaya Akta Jual Beli (AJB)
Belajar dari Empat Tokoh Antikorupsi Legendaris Indonesia
Papua Mulia