Tugas sang musafir seorang mursyid sejati bukan memberimu sayap, tapi menyadarkan bahwa engkau sudah memilikinya.
Syaikh Ibn ʿAṭāʾillah berkata:
كَيْفَ يُسَافِرُ إِلَى اللهِ مَنْ هُوَ مُسْتَوْقِفٌ بِغَيْرِهِ؟
“Bagaimana mungkin seseorang bisa berjalan menuju Allah, jika ia masih tertahan oleh selain-Nya?”
Penjara terbesar adalah lupa siapa diri kita: hamba Allah.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Bumi Tak Angkuh (Bagian 1888)
Iran dan Hal-hal yang Membuat Kita Tercengang
Konsekuensi Pemisahan Pemilu Nasional dan Pemilu Daerah
Young ASEAN Islamic Future Leader Summit (YAIFLS) 2025 Alami Perubahan Jadwal, Siap Digelar Awal Agustus
Telkom Perlu Beralih ke Sambungan Digital, Kabel Wi-Fi di Cianjur Semrawut dan Meresahkan Warga
Unisla Perkuat Jejaring Internasional di Thailand dan Malaysia
Mutiara Pagi: Langit Tak Sombong (Bagian 1889)
Peran Filsafat bagi Peradaban: Cetuskan Berpikir Kritis untuk Mengarungi Kesadaran Hidup
Keluhan Warga soal Pengelolaan Lapang: "SK Sudah Turun, tapi Pengurus Malah Diam"
Kisruh Insentif Guru Ngaji di Cianjur: Saatnya Bijak Melihat Realita