Langit itu luas
Tinggi, tak terjangkau
Tak pernah menuntut balas
Juga tak pernah risau
Padahal, jika langit mau
Cukup satu gerakan saja
Seperti seekor harimau
Siap menerkam mangsa
Berbeda dengan manusia
Marah saat tak disapa
Lalu membuang muka
Jika tak disebut namanya
Kadang tak bisa makan
Jika tak diberi penghormatan
Karena merasa diperlakukan
Layaknya orang kebanyakan
Langit tempat bernaung
Segala bentuk kehidupan
Namun tak pernah sombong
Tak pilih-pilih memberi keteduhan
Padahal kalau langit mau
Cukup perintahkan petir dan badai
Segala kesombongan akan berlalu
Sekejap pun dunia ‘kan damai
Pamekasan, 2 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Membuang Prasangka (Bagian 1886)
Membangun Masa Depan: Pelantikan DEMA dan SEMA STISNU Cianjur Berintegritas sebagai Arsitek Perubahan
Hijrah dari Kemiskinan
Mutiara Pagi: Secepat Angin (Bagian 1887)
Kontemplatif: Stimulatif Belajar Guna Mencetak Karakter Seseorang yang 'Berdaya dan Digdaya
Mutiara Pagi: Bumi Tak Angkuh (Bagian 1888)
Iran dan Hal-hal yang Membuat Kita Tercengang
Young ASEAN Islamic Future Leader Summit (YAIFLS) 2025 Alami Perubahan Jadwal, Siap Digelar Awal Agustus
Telkom Perlu Beralih ke Sambungan Digital, Kabel Wi-Fi di Cianjur Semrawut dan Meresahkan Warga
Unisla Perkuat Jejaring Internasional di Thailand dan Malaysia