Meski terinjak kaki
Bumi tak pernah marah
Tidak angkuh dalam melayani
Walau sering terluka parah
Tidak pernah bercerita
Siapa yang menyakiti
Meski sejumlah luka
Yang sering dialami
Peminta dan penguasa
Dilayani tanpa beda
Bahkan bunga dan duri
Dibiarkan tetap bersemi
Sementara tangan manusia
Ada yang tega mengotorinya
Diam-diam membuat keputusan
Ditulis dengan tinta kepentingan
Padahal hanya menumpang hidup
Di antara napas daun-daun
Keangkuhannya tak pernah redup
Seperti warisan yang turun temurun
Kata-katanya seperti puisi
Yang tak pernah selesai ditulis
Namun kosong tak berisi
Kecuali sikap angkuh dan sinis
Malang, 1 Juli 2025
Salam sehar,
M. Sinal
Artikel Terkait
Anak Muda, Ekonomi Digital, dan Tantangan Demokrasi di Era AI
Mutiara Pagi: Arogansi (Bagian 1885)
Peringati Hari Koperasi Nasional, Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Doorprize dan Genjot Sosialisasi
Pernahkah kamu merasa bersalah saat beristirahat? Atau merasa gagal hanya karena tidak produktif seharian?
Menghadapi Tantangan Pluralisme di Era Digital
Mutiara Pagi: Membuang Prasangka (Bagian 1886)
Membangun Masa Depan: Pelantikan DEMA dan SEMA STISNU Cianjur Berintegritas sebagai Arsitek Perubahan
Hijrah dari Kemiskinan
Mutiara Pagi: Secepat Angin (Bagian 1887)
Kontemplatif: Stimulatif Belajar Guna Mencetak Karakter Seseorang yang 'Berdaya dan Digdaya