Pun demikian dengan Kunjungan Bupati Cianjur hari ini, Minggu (04/05) dengan rombongannya yang terbilang "ngabring" ke Perum Gading Asri. Diharapkan mampu memberikan solusi terbaik bagi warga, tanpa mengorbankan kepentingan warga lainnya. Apalagi sampai memunculkan permasalahan baru di ruang publik, jangan sampai terjadi.
Perlu dipahami oleh Bupati dan jajarannya (Dinas terkait), lakukan kajian yang komprehensif atas musibah banjir yang terjadi. Lakukan kajian akademik, kajian sosial, kajian ekonomi sampai kajian politik atas kebijakan yang akan diambil dan dijadikan solusi.
Banjir satu minggu yang lalu tidak hanya terjadi di wilayah Gading Asri saja. Peristiwa ini merupakan "fenomena alam masal" yang terjadi dibanyak tempat tidak hanya di Desa Bojong Karanbgtengah semata. Tidak cukup alasan hadirnya sekolah dan masjid menjadi biang kerok terjadinya musibah banjir, karena dibeberapa blok yang jauh dari bangunan sekolah dan masjid pun ikut terdampak, bahkan lebih parah lagi kondisinya.
Akan tetapi, penulis sadar sepenuhnya bahwa bangunan-bangunan tersebut terindikasi melanggar regulasi. Pertimbangan etis, mudah saja solusinya, jikalah dianggap memunculkan madharat bagi kehidupan warga maka robohkan saja, namun jika kadar manfaatnya jauh lebih banyak maka tidak perlu dipugar, yang ada adalah dicarikan solusi tanpa di eksekusi terlebih dahulu.
Aturan ditegakkan harus, karena memang eloknya logika hukum begitu. Akan tetapi, ada pertimbangan-pertimbangan moral dan hati nurani yang harus lebih dikedepankan, yaitu kemaslahatan kehidupan warga atas hukum yang berlaku. Hal ini selaras dengan pemikiran seorang Marcus Tullius Cicero, seorang filosof dan pakar hukum Romawi Kuno yang menyatakan bahwa "hukum/ aturan yang baik adalah hukum dan aturan yang mampu mensejahterakan rakyatnya".
Hadirnya Bupati Cianjur dan wakilnya di Perumahan Gading Asri, diharapkan mampu memberikan solusi yang terbaik tanpa merugikan hak-hak sipil warganya. Jika tidak mampu, maka pertaruhan kredibilitas dan kompetensi sebagai "Bupati Baru" akan dipersoalkan, terlebih oleh lawan-lawan politiknya. Lakukan pemetaan kasus secara sempurna: baca, kaji, pahami, diskusi, lahirkan solusi dan wujudkan dalam aksi-aksi nyata yang humanis. Hindari menerima pelaporan warga sepihak yang hanya akan menyesatkan pemikiran dan berdampak buruk terhadap kepentingan saudara Bupati di lima tahun yang akan datang. ***
Penulis adalah Direktur Cianjur Institute Foundations: Pemerhati Sosial, Akademisi dan Aktivis Penggiat Anti Korupsi. Kini tinggal di Perum Gading Asri dan merupakan warga yang terdampak bencana banjir bandang.
Artikel Terkait
Hari Pendidikan Nasional: Antara Idealisme dan Komersialisasi
Semakin Kacau Dunia, Indonesia Siap?
Perjuangan Buruh dan Mimpi Kesetaraan yang Tak Kunjung Nyata
Menyoal QRIS : Regulasi Nasional Melanggar Hukum Internasional ?
Gemilang, YPM NU Cianjur Sabet Juara 1 Lomba Ramadhan Ramah Anak Tingkat Jawa Barat
Mutiara Pagi: Realita Kehidupan (Bagian 1829)
BEM PTNU Serukan Reformasi Ketenagakerjaan Berkeadilan di Hari Buruh 2025
Mutiara Pagi: Di Sebuah Galaksi (Bagian 1830)
Refleksi Harlah ke-91, PAC GP Ansor Karangtengah Gaungkan Ketahanan Pangan dan Semangat Kebangsaan
Uniknya Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Sambilawang, Sukoharjo