Oleh: MJ.Wijaya
Sejarah bukan sekadar deretan tanggal dan nama besar. Ia adalah cermin yang memantulkan kebenaran abadi: tidak ada kejayaan yang abadi. Di setiap peradaban besar yang pernah menguasai dunia, kita selalu menemukan pola yang sama bangkit, berjaya, lalu runtuh.
Pertanyaannya, mengapa mereka runtuh? Apakah karena lemahnya militer? Apakah karena kalah teknologi? Tidak. Sebagian besar jatuh bukan karena pukulan dari luar, melainkan karena penyakit dari dalam: keangkuhan, kesombongan, dan sikap merendahkan bangsa lain.
Bangsa yang merasa dirinya pusat dunia akan buta terhadap realitas. Mereka menutup telinga terhadap kritik, menolak belajar dari yang dianggap “lebih rendah”, dan menganggap bahwa kejayaan adalah hak abadi, bukan sesuatu yang harus dijaga dengan kerendahan hati. Inilah ilusi yang mematikan.
Kesombongan: Virus yang Membunuh dari Dalam
Dalam pandangan filsafat politik klasik, kekuasaan besar selalu melahirkan hybris arogansi yang menentang tatanan moral dan mengabaikan hukum keseimbangan. Aristoteles menulis dalam Politika bahwa “tirani yang angkuh selalu menanam benih kehancuran bagi dirinya sendiri.” Konsep ini relevan sepanjang zaman: setiap bangsa yang pongah sedang menulis epitafnya sendiri.
Ibn Khaldun, dalam karya monumentalnya Muqaddimah, menegaskan bahwa peradaban runtuh ketika solidaritas sosial melemah dan digantikan oleh dekadensi moral. Ketika para penguasa hidup dalam kemewahan, merendahkan bangsa lain, dan menolak inovasi, maka kehancuran hanyalah soal waktu.
Sejarah yang Menampar: Dari Romawi hingga Uni Soviet
Sejarah dipenuhi contoh bagaimana kesombongan menghancurkan raksasa:
Romawi Kuno menganggap bangsa di luar perbatasannya sebagai “barbar” yang tak berbudaya. Mereka meremehkan etika kerja dan militansi suku-suku Jermanik. Namun pada tahun 476 M, bangsa yang mereka ejek itulah yang menumbangkan jantung Romawi.
Imperium Mongol, kekuatan paling ditakuti abad pertengahan, pecah karena perang saudara yang dipicu kesombongan klan. Mereka tak pernah berusaha membangun integrasi dengan bangsa taklukan, hanya menguras sumber daya. Akhirnya, raksasa itu roboh.
Kekhalifahan Utsmani, yang membentang dari tiga benua, runtuh pada awal abad ke-20. Bernard Lewis dalam The Middle East: A Brief History of the Last 2,000 Years mencatat, salah satu penyebabnya adalah sikap meremehkan inovasi Barat, menolak modernisasi karena dianggap “inferior” dan “kafir.” Kesombongan budaya mematikan kemampuan adaptasi.
Uni Soviet, kekuatan raksasa abad ke-20, runtuh pada 1991 bukan hanya karena Perang Dingin, tetapi karena kesombongan ideologi. Mereka percaya dunia akan tunduk pada komunisme, sementara rakyat mereka sendiri kelaparan dan ekonomi stagnan.
Data yang Mengguncang
Artikel Terkait
Belajar Merdeka
Merajut Ukhuwah Lewat Kalam Ilahi: KKN STAI Al-Azhary Gelar Khotaman Qur’an di Cibinong Hilir
Peduli Pangan, Mahasiswa KKN Tanam Tanaman Produktif di Desa
Mutiara Pagi: (Bagian 1924)
Dari Langkah Kecil Menuju Dampak Besar, Saatnya Kita Membawa Perubahan
Tetapkan Tersangka Secara Kilat, Kejaksaan Cianjur Digugat Lewat Praperadilan
Abolisi dan Amnesti Presiden Prabowo
Mahasiswa KKN 79 dan Rukun Ardi Budoyo Lestarikan Tradisi Suranan
Sosialisasi Ceria Anti-Bullying, Siswa SD Sojopuro Kompak Jadi Teman Baik
KKN STAI Al Azhary Kenalkan Pendidikan Reflektif Anak Lewat Program ‘Gerbang Imajinasi