Journalnusantara.com, Wonosobo - Tradisi Suranan yang sarat akan nilai sejarah kembali digelar di Dusun Gondang, Desa Sojopuro, Kecamatan Mojotengah, Wonosobo.
Kelompok seni Rukun Ardi Budoyo, yang menjadi motor penggerak acara ini, berkolaborasi dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 79 dalam upaya melestarikan budaya lokal.
KKN 79 merupakan gabungan mahasiswa dari UIN Saizu Purwokerto, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan IAIN Parepare.
Salah satu pertunjukan utama dalam Tradisi Suranan adalah seni tari Lengger, yang memiliki sejarah panjang. Menurut penuturan masyarakat setempat, Lengger berakar dari masa Walisongo, ketika Sunan Kalijaga menggunakannya sebagai media dakwah Islam di tanah Jawa. Dahulu, penari Lengger seluruhnya adalah laki-laki, karena perempuan belum diperkenankan tampil di muka umum.
Rukun Ardi Budoyo sendiri telah berdiri sejak 13 Agustus 1964. Awalnya bernama "Rukun Muda Karya" yang didirikan oleh Bapak Darjuki. Nama ini kemudian diganti menjadi "Rukun Ardi Budoyo", yang mencerminkan semangat kebersamaan dan keluhuran budaya.
Menurut Supono, Ketua Rukun Ardi Budoyo saat ini, tahun 1976 menjadi momen penting. Saat itu, pertunjukan Lengger mulai difungsikan sebagai bagian dari ritual adat Suranan yang diadakan setiap bulan Sura. Pada tahun yang sama, kepemimpinan organisasi beralih ke Darmo Suwito.
Meskipun telah berganti kepemimpinan beberapa kali, semangat pelestarian budaya tetap terjaga. Buktinya, acara Suranan terus diselenggarakan setiap tahun, termasuk pada 23 Juli 2025 lalu.
Acara yang dipusatkan di Dusun Gondang tersebut berlangsung meriah dan dihadiri oleh masyarakat sekitar. Pertunjukan dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pada pukul 01.00 dini hari.
Tahun ini, Tradisi Suranan menampilkan berbagai pertunjukan, di antaranya tari kuda kepang oleh 3 penari perempuan dan 7 penari laki-laki, serta tari Warok oleh 12 penari laki-laki. Secara keseluruhan, Rukun Ardi Budoyo memiliki 38 anggota aktif.
Tujuan utama acara ini adalah untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kesenian tradisional dan memperkuat nilai budaya lokal.
"Kegiatan ini juga menjadi salah satu cara mengenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas dan generasi muda," ujar Supono.
Kehadiran mahasiswa KKN 79 memberikan kontribusi besar dengan membantu dokumentasi dan promosi acara melalui media sosial. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjaga eksistensi kesenian Lengger agar tetap hidup dan relevan, tanpa kehilangan nilai-nilai tradisionalnya.
Artikel Terkait
Persaingan Prabowo-TNI vs Jokowi-Polri Semakin Nyata
Kapolri Listyo Sigit Sudah Berani "Menyimpang"?
Belajar Merdeka
Mutiara Pagi: Hegemoni (Bagian 1923)
Merajut Ukhuwah Lewat Kalam Ilahi: KKN STAI Al-Azhary Gelar Khotaman Qur’an di Cibinong Hilir
Peduli Pangan, Mahasiswa KKN Tanam Tanaman Produktif di Desa
Mutiara Pagi: (Bagian 1924)
Dari Langkah Kecil Menuju Dampak Besar, Saatnya Kita Membawa Perubahan
Tetapkan Tersangka Secara Kilat, Kejaksaan Cianjur Digugat Lewat Praperadilan
Abolisi dan Amnesti Presiden Prabowo