Kapolri Listyo Sigit Sudah Berani "Menyimpang"?

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 06:06 WIB
Kapolri Listyo  (Antara)
Kapolri Listyo (Antara)


Oleh: Agung Wibawanto

"Saya sampaikan agar mengingatkan kepada kita semua bahwa kondisi negara kita dan kondisi situasi dinamika global saat ini sedang tidak baik-baik saja,” kata Listyo dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Kementerian Imigrasi di Hotel Shangri La Jakarta, Senin (4/8/2025).

Publik terkejut Kapolri LSP mengatakan hal tersebut. Karena diketahui, statemen sejenis sudah dilontarkan lama oleh kalangan aktivis civil society (publik). Warga lebih lugas lagi mengatakan "Indonesia Gelap". Namun kritik ini tidak disepakati oleh presiden Prabowo yang sebaliknya mengatakan "Indonesia cerah!"

Bahkan Prabowo balik mencibir ungkapan Indonesia gelap dan "lari aja dulu" dengan makian "Ndasmu!" Bisa diartikan Prabowo tidak sepakat dan marah jika disebut Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tapi mengapa kapolri justru mengatakan demikian? Adakah mulai menunjukkan pembangkangan setelah junjungannya, Jokowi, disakiti?

Sigit bisa saja mengatakan bahwa konteksnya terkait meningkatnya kejahatan internasional, seperti human traficking, akibat gejolak global perang di beberapa wilayah. Jadi, bisa saja Sigit ngeles bahwa yang dimaksud negara Indonesia sedang tidak baik-baik saja adalah dampak global, bukan karena pemerintah yang gagal kelola negara.

Apapun, ucapan Sigit bisa dianggap sebagai kontra produktif. Karena bisa digunakan oleh kaum aktivis sebagai pembenar untuk melancarkan sikap protesnya. Sepanjang ini, komunikasi antara presiden dengan kapolri terlihat tidak terlalu intens apalagi hangat. Prabowo lebih mengandalkan korps TNI dalam membantu pekerjaannya.

Meski dalam HUT Bhayangkara 1 Juli kemarin Prabowo hadir sekaligus menjadi pemimpin upacara, publik sudah sangat paham. Institusi Polri selama ini lebih dekat dengan Jokowi, bahkan Kapolri Sigit dianggap sebagai orangnya Jokowi. Membuat posisi Sigit masih cukup kuat meski sudah 4,5 tahun (2021) menjabat Kapolri. Sementara TNI lebih mendukung Prabowo.

Dalam politik memang yang lebih menarik itu cerita di belakang panggungnya bukan di atas panggung. Orang bisa mengatakan, ah kebetulan saja jangan terlalu sensi dan baper. Namun dalam kamus politik tidak mengenal istilah "gujug-gujug" ataupun kebetulan. Semua by design, karena itu semua pihak memang harus saling peka ataupun tanggap.

Publik tentu tidak mempermasalahkan terlalu dalam, karena tidak memiliki kepentingan di sana. Publik hanya mencoba fokus dan konsisten dengan pernyataan sikapnya, tidak mau peduli terkait perseteruan antara Jokowi dengan Prabowo. Bagi publik, Jokowi dan Prabowo adalah sama saja. Mereka dianggap sebagai pemimpin yang gagal dan tidak kompeten.

Mereka mau tetap bersatu ataupun pecah kongsi, tidak masalah. Hanya saja, akan menjadi sebuah tontonan menarik bagaimana tarik-menarik dua kekuatan politik tersebut. Sebelum Kapolri, beberapa kader PSI juga telah menyerang Prabowo secara eksplisit bahkan berniat melengserkan.

Mereka marah karena Prabowo telah membebaskan orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh Jokowi. Hal ini pula, menunjukkan dugaan publik benar bahwa fans Jokowi terlibat transaksional saat memilih Prabowo pada pilpres 2024 kemarin. Bisa dibilang, memilih tapi bukan pakai akal sehat melainkan pakai akal bulus.

Jika kader PSI mengatakan mau melengserkan Prabowo, menarik untuk ditunggu bagaimana komentar ketua umum dari partai bergambar "Bledug" ini. Mengingat ya, track record atau juga catatan sejarah PSI yang pernah memberi sertifikat "pembohong besar" kepada Prabowo. Dulu menghujat kini mengemis jabatan dengan menjilat. Tapi, ludah itu kini dijilat kembali?

Tabik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X