Fenomena Bendera One Piece, Agung Wibawanto: Bukti Makin Terkikis Trust Rakyat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 5 Agustus 2025 | 05:58 WIB
Ilustrasi bendera one piece. (SMSolo/dok)
Ilustrasi bendera one piece. (SMSolo/dok)

Sedang heboh dan viral pemasangan Jolly Roger One Piece menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 80. Sebuah bendera berlogo tengkorak dengan topi jerami diambil dari anime. One Piece dengan tokoh utama Monkey Luffy memang kisah yang digemari kalangan muda baik melalui film dan game online.

Lalu mengapa OP? Sebenarnya banyak sosok ataupun logo lain yang menyimbolkan perlawanan atas ketidakadilan dan solidaritas sesama rakyat tertindas. Ada pula simbol tiga jari yang diambil dari film layar lebar Hunger Game, dsb. Ini menunjukkan pokoknya rakyat ingin menunjukkan perbedaan.

Di saat pemerintah menghimbau kibarkan bendera merah putih, maka rakyat berbeda. Agar apa? Menurut seorang pengamat sosial dan politik asal Yogyakarta, Agung Wibawanto, ini hanya fenomena sesaat. Namun begitu, Agung mengatakan jangan main-main dengan fenomena tersebut..

"Meski ini fenomena tapi berbasis pada realita. Coba tanyakan, mengapa rakyat melakukan itu? Mungkin tidak jika tanpa sebab-musabab lalu muncul begitu saja? Hal ini diawali dari kondisi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja. Hidup rakyat semakin berat tertekan oleh kebijakan pemerintah yang semena-mena," ucap Agung.

"Di sisi lain, perilaku pejabat negara berkesan tidak memiliki empati dengan tampil serba mewah, joget-jogetan, bahkan presiden menyindir balik suara rakyat yang mengeluh Indonesia gelap dan kabur aja dulu. Penderitaan rakyat justru dijawab dengan begitu merendahkan dengan mencibir. Ini membuat rakyat marah."

Menurut Agung, pemerintah hanya bisa menyalahkan rakyat tanpa mau disalahkan. Pemerintah menuntut agar rakyat mendengar sementara pemerintah tidak pernah mau mendengar rakyat, "Ini kan sebuah kondisi yang menyedihkan harusnya. Mestinya, jika pemerintah belum bisa membuat rakyat sejahtera, setidaknya jangan menyakiti hati rakyat," jelas Agung.

Bagi Agung lagi, setidaknya ada dua tujuan rakyat mengibarkan bendera OP, "Pertama, ingin mengetahui sebenarnya betapa banyak sih yang melakukan protes ke pemerintah? Karena selama ini kerap dibalas pemerintah dengan pertanyaan, memangnya rakyat mana dan berapa banyak? Persoalannya bukan pada kuantitas tapi benar atau tidak?"

"Kedua, rakyat ingin mengetahui bagaimana respon pemerintah dalam menyikapinya? Kita lihat, alih-alih mendengarkan, pemerintah justru mengancam akan menangkap jika mengibarkan bendera lain selain merah putih. Mengapa pemerintah harus panik jika memang tidak ada masalah? Reaksi ini jelas menunjukkan kepanikan," tambah Agung.

Pada dasarnya, terkait PP pengibaran bendera dan juga atau panji-panji memang diatur dalam UU. Sepanjang tidak melanggar aturan, tidak masalah mau bentangkan apapun, kecuali terdapat lambang atau logo yang memang dilarang negara. Begitupun, ada pemberitaan beberapa warga didatangi aparat karena memasang bendera OP.

Sampai saat ini memang belum ada yang ditahan, namun sekali lagi, reaksi aparat tampak berlebihan. Tidak hanya aparat tapi juga beberapa pejabat negara yang berkesan mengintimidasi rakyat, "Ini kan ke kanak-kanakan. Sementara Gerakan OPM justru bersuara lantang melarang pengibaran merah putih di Papua. Mengapa bukan itu yang diurus?" Protes Agung.

Fenomena ini semakin menarik karena sepertinya banyak rakyat yang melakukan "perlawanan" kepada pemerintah baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya. "Coba cek komentar di postingan dari akun-akun pejabat di medsos. Nyaris dikuasai oleh komentar miring. Begitupun di kehidupan nyata, banyak pengendara yang kini lebih kritis ke aparat polisi."

"Ini yang saya bilang harus hati-hati. Rakyat semakin cerdas dengan info yang mereka terima di medsos. Implikasinya, rakyat semakin banyak yang meyakini bahwa pemerintah dzalim. Jika dibiarkan, atau malah balik direndahkan, maka suara perlawanan rakyat semakin menggelembung berubah menjadi gerakan besar," terang Agung.

Dalam kondisi serba susah sekarang ini, menurut Agung, tidak banyak pilihan bagi rakyat, "Kebanyakan rakyat dalam kondisi hopeless, mereka akan berpikir "loos". Artinya gak berpikir apa-apa lagi hingga urat takutnya menjadi putus. Karena percuma takut dan hidup tetap merana. Rakyat malah tanpa beban untuk melawan," pungkas Agung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X