Journalnusantara.com, Tegal – Mohamad Arief Junaidi, pemuda asal Tegal yang akrab disapa Arief, adalah sosok yang tumbuh besar dalam pelukan kasih seorang nenek.
Sejak kecil, ia terbiasa menulis impian di buku kecil miliknya, membayangkan suatu hari satu per satu mimpi itu akan menjadi nyata.
Hidup tanpa orang tua di sisinya sejak dini tak lantas membuat langkahnya surut, justru menjadi pijakan awal bagi semangat yang tak pernah padam.
Arief menyukai tantangan dan haus akan pengetahuan. Dari bangku sekolah dasar, ia aktif mengikuti berbagai lomba. Meski tak selalu mudah, hampir semua perjuangannya berbuah manis.
Bagi Arief, kemenangan sejati bukan terletak pada piala atau piagam, melainkan dari tatapan bangga yang terpancar dari orang-orang tercinta.
Di usia 13 tahun, ia menuntaskan hafalan Al-Qur’an. Hafalan yang tak hanya dijaga, tapi juga dihidupkan melalui berbagai lomba tingkat nasional, mewakili pesantren tempatnya menimba ilmu.
Perjalanan pendidikan Arief terbilang gemilang. Dari TK hingga SD ia kerap meraih prestasi. Saat SMP, ia menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Rahmah dan hampir selalu menempati peringkat pertama, bahkan meraih Juara Umum di tahun pertamanya.
Setelah itu, ia melanjutkan ke Pondok Modern Darussalam Gontor, pondok pesantren yang dikenal dengan kedisiplinannya yang tinggi. Di sana, Arief mendapat beasiswa prestasi dan menggali lebih dalam makna hidup, tanggung jawab, serta pengabdian.
Sebagaimana tradisi Gontor, ia mengabdikan diri selama satu tahun untuk mengajar dan membimbing para santri, dengan harapan bisa menyalurkan ilmu dan nilai-nilai yang telah diterimanya sebagai amal jariah.
Kini, Arief melanjutkan pendidikannya di Turki. Hidup di negeri orang ia maknai sebagai kesempatan untuk menjadi wakil Indonesia, bukan dengan selempang atau panggung besar, tapi lewat akhlak, budaya, dan tutur sapa yang hangat. Baginya, merantau bukan hanya soal belajar, tetapi juga mengenalkan tanah air lewat interaksi sehari-hari.
Melalui perjalanan yang penuh warna, Arief akhirnya terpilih sebagai bagian dari Duta Inspirasi Indonesia. Enam bulan bergabung dalam program ini menjadi fase refleksi dan penyembuhan, sekaligus ladang pengabdian.
"Bukan sekadar gelar, tapi ruang untuk menyuarakan kisah hidup, menyalakan harapan, dan menjadi cahaya bagi mereka yang hampir menyerah. Saya bangga menjadi bagian dari perjalanan ini, dan terus berkomitmen membawa inspirasi ke mana pun langkah mengarah," tukasnya.
Artikel Terkait
Plot Twist Menjelang Hari Kemerdekaan?
Revisi KUHAP Harus Komprehensif (Bagian 2)
Mutiara Pagi: Penyebab Sejati (Bagian 1920)
Untung Rugi Politik PDIP Bergabung Dalam Pemerintahan Prabowo
Beli Rumah Negara Ikut Pesta, Catatan Kecil Tentang Pajak yang Tak Pernah Kecil
Waspada Kolesterol, Si Pembunuh Diam-Diam dari Dalam Tubuh
Mengenal Gagap, Gangguan Bicara yang Sering Dianggap Sepele
Lepas dari Rendah Diri, Mulai Percaya Diri dengan Melihat Nilai Diri Sendiri
Penguatan Keluarga Sakinah, Upaya Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Ciptakan Harmonis Berumahtangga
Wakil Presiden Mahasiswa STAI Al-Azhary, Sahrul Ramadhan, Beranikan Diri Daftar Mojang Jajaka Cianjur 2025