Lepas dari Rendah Diri, Mulai Percaya Diri dengan Melihat Nilai Diri Sendiri

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 2 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Seseorang tersenyum tenang sambil duduk di taman, mencerminkan sikap rendah hati (Freepik)
Seseorang tersenyum tenang sambil duduk di taman, mencerminkan sikap rendah hati (Freepik)

Journalnusantara.com - Rasa rendah diri adalah perasaan tidak percaya pada kemampuan, merasa tidak pantas, dan selalu membandingkan diri dengan orang lain. Jika dibiarkan, rasa ini bisa menjadi penghalang terbesar dalam meraih potensi dan kebahagiaan hidup.

Sumber rendah diri bisa berasal dari pengalaman masa lalu, seperti kegagalan, ejekan, atau kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Ada juga yang tumbuh dalam tekanan standar sosial, sehingga merasa tidak cukup baik hanya karena tak sesuai dengan “ukurannya” orang lain.

Langkah pertama untuk keluar dari rasa rendah diri adalah mengenal dan menerima diri sendiri. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Fokuslah pada kelebihan yang dimiliki, meski tampak kecil. Hal-hal sederhana seperti kemampuan mendengar dengan baik, ketekunan, atau kejujuran adalah nilai yang tak bisa diukur oleh standar luar.

Kedua, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Hidup bukan perlombaan. Setiap orang punya garis waktu dan jalannya masing-masing. Apa yang terlihat sempurna dari luar belum tentu bebas dari perjuangan di dalam.

Ketiga, kelilingi diri dengan lingkungan yang suportif. Hindari orang-orang yang hanya menjatuhkan atau meremehkan. Temukan teman atau komunitas yang bisa saling mendukung dan mendorong untuk tumbuh.

Dan yang terpenting, lakukan hal-hal kecil yang memberi rasa pencapaian. Mulai dari menulis jurnal syukur, belajar keterampilan baru, hingga berbicara di depan umum meskipun sedikit grogi. Semua itu akan membangun kepercayaan diri sedikit demi sedikit.

Rasa percaya diri bukan muncul karena kita sempurna, tapi karena kita belajar berdamai dengan ketidaksempurnaan. Mulailah melihat diri sebagai pribadi yang layak untuk dihargai, dicintai, dan diperjuangkan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Nilai Persahabatan (Bagian 2275)

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:57 WIB

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB
X