(Belajar dari kearifan Antonio Gramsci)
Penjajah sudah lama pulang
Namun, berganti kepala wayang
Hadir dalam bentuk yang memikat
Seolah-olah lebih bermartabat
Mata air yang dulu jernih
Kini seperti sumur beracun
Dengan suara lantang mereka berdalih
Bahwa semua ini warisan turun temurun
Dari rahim penjajahan baru
Lahir jiwa-jiwa yang terbelenggu
Seperti pelangi di musim kemarau
Tapi hati dan pikirannya risau
Tumbuh jiwa-jiwa yang rela dikendalikan
Dalam benak maupun tindakan
Sebagian menjadi peniru setia
Yang lain menjadi penurut tuannya
Selama menguntungkan dirinya
Dianggap sesuatu yang wajar
Apalagi menyelamatkan kelompoknya
Dianggap sesuatu yang benar
Yudi Latif berpetuah:
Kita mesti terus belajar menjadi merdeka
Keberanian menyalakan obor dalam diri
Meski dunia terkadang tak mau peduli
Malang, 5 Agustus 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Tiga Pilar Kehormatan (Bagian 1921)
Ahmad Samsul Munir Terpilih sebagai Presidium Nasional Halaqoh BEM Pesantren
Safari Bazaar #14 – Surganya Belanja dan Hiburan Keluarga di Tangerang!
Workshop Pelestarian Lingkungan: Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri di Desa Sukakerta
Mutiara Pagi: Semua Tinggal Bayangan (Bagian 1922)
Mahasiswa KKN STAI Al-Azhary Cianjur Tanamkan Nilai Parenting Islami untuk Masa Depan Anak Bangsa
Tingkatkan Semangat Sekolah, Mahasiswa KKN Gelar Edukasi Pentingnya Pendidikan
Fenomena Bendera One Piece, Agung Wibawanto: Bukti Makin Terkikis Trust Rakyat
Persaingan Prabowo-TNI vs Jokowi-Polri Semakin Nyata
Kapolri Listyo Sigit Sudah Berani "Menyimpang"?