Runtuhnya Sebuah Bangsa: Ketika Keangkuhan Menjadi Kuburan Peradaban

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 7 Agustus 2025 | 04:43 WIB
Prabowo Subianto menegaskan pentingnya persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks (Promedia Teknologi Indonesia)
Prabowo Subianto menegaskan pentingnya persatuan bangsa dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks (Promedia Teknologi Indonesia)

Fakta modern menunjukkan pola yang sama. Negara-negara yang mengusung hegemoni justru berada dalam pusaran krisis. Data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mencatat bahwa Amerika Serikat melakukan 93 intervensi militer pasca-1945.

Mereka mengklaim membawa demokrasi, tapi meninggalkan puing-puing perang di Irak, Afghanistan, dan Libya. Kini, utang nasional AS menembus $34 triliun pada 2024 (US Treasury Data). Apa artinya? Dominasi berbasis kesombongan menguras moral sekaligus ekonomi.

Ketika Filsafat Berbicara: Hybris dan Nemesis

Dalam tragedi Yunani, ada dua konsep yang relevan: hybris (kesombongan) dan nemesis (hukuman takdir). Bangsa yang pongah sedang menantang tatanan kosmik. Mereka percaya kekuasaan tak terbatas, kekayaan tak akan habis, dan musuh tak akan pernah bangkit. Namun sejarah selalu menghadirkan nemesis—entah berupa krisis ekonomi, pemberontakan internal, atau kekuatan baru yang mereka remehkan.

Friedrich Nietzsche pernah menulis, “Was mich nicht umbringt, macht mich stärker.” (Apa yang tidak membunuhku membuatku lebih kuat). Tetapi bagi bangsa yang angkuh, apa yang tidak membunuh justru membuatnya semakin sombong—hingga akhirnya ia hancur oleh kebodohannya sendiri.

Refleksi untuk Indonesia

Apakah Indonesia bebas dari penyakit ini? Tidak. Kita sering merasa “bangsa besar” hanya karena jumlah penduduk, padahal kualitas pendidikan kita berada pada peringkat 68 dari 80 negara (OECD, 2023). Kita bangga sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, tetapi Indeks Persepsi Korupsi 2024 menempatkan kita di urutan ke-87 dari 180 negara (Transparency International). Apalah arti kebanggaan jika di dalam tubuh bangsa masih mengalir korupsi, kesenjangan sosial, dan arogansi politik?

Kita juga kerap memandang rendah bangsa lain, menganggap budaya luar sebagai ancaman, sementara kita sendiri tak mampu mengelola potensi. Jika mentalitas ini terus hidup, jangan salahkan siapa pun jika kelak Indonesia hanya menjadi catatan kaki dalam buku sejarah.

Penutup: Kesombongan adalah Kuburan Peradaban

Bangsa yang ingin bertahan harus belajar dari sejarah. Kejayaan bukan hak abadi, ia harus dijaga dengan kerendahan hati, keterbukaan, dan kesediaan belajar dari siapa pun, bahkan dari yang dianggap kecil. Kesombongan adalah racun, kerendahan hati adalah obat.

Jika kesombongan adalah jalan menuju kehancuran, maka satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan membuang ilusi superioritas. Sebab pada akhirnya, bukan kekuatan senjata yang menentukan umur sebuah bangsa, melainkan kualitas moral dan kebijaksanaannya dalam memandang dunia.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Belajar Merdeka

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X