Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, aku ingin mendirikan partai. Bukan partai kekuasaan yang riuh berjanji saat lapar kedudukan, lalu menghilang saat rakyat benar-benar kelaparan. Tapi, partai peradaban yang terus hadir memakmurkan madu kebahagiaan bersama. Namanya: Partai Lebah.
Lebah hidup rendah, tapi meninggikan makna. Ia tak hinggap di tumpukan sampah atau bunga busuk. Tak seperti banyak partai yang gemar menghisap dari apa saja asal menguntungkan.
Lebah bekerja dalam diam. Ia tak pasang baliho wajahnya di tiap sudut taman, tak mengklaim madu sebagai pencapaiannya sendiri. Ia memberi tanpa janji, menghasilkan tanpa gaduh.
Di sarangnya, tak ada perebutan kursi. Semua tahu peran ratu, penjaga, pekerja dan semua bekerja demi koloni, bukan demi dinasti. Di sinilah keadilan: bukan soal siapa paling bising, tapi siapa paling berfungsi.
Lebah tak rakus. Ia mengambil seperlunya, meninggalkan selebihnya untuk semesta. Ia tak mengatur anggaran madu hanya untuk dirinya dan kroninya.
Sarangnya berbentuk hexagonal rancang bangun paling kokoh dan efisien di alam. Tak ada ruang kosong untuk pencitraan, tak ada anggaran siluman. Hidup pun mestinya begitu: tertata, jujur, hemat, dan kuat.
Dan musyawarah? Dari kata 'syawara': memeras madu. Bukan memeras lawan atau rakyat. Dari bunga-bunga berbeda, lebah menyatukan rasa. Dari pikiran berbeda, mestinya kita menyuling kebijaksanaan bukan saling menyengat demi gengsi.
Lebah hidup singkat. Tapi ia pergi meninggalkan madu, cahaya, dan kehidupan. Sedangkan banyak partai pergi meninggalkan utang, luka, dan undang-undang cacat.
Bukankah hidup yang baik mestinya seperti lebah? Tak banyak bicara, tak sibuk citra namun ketika pergi, dunia terasa lebih hidup, lebih mekar, dan jauh lebih manis dari saat ia datang.
Artikel Terkait
Hari Anak Nasional, PMII dan DEMA STISNU Cianjur Serukan Penolakan Pernikahan Dini
Mutiara Pagi: Jejak Tak Terhapus (Bagian 1911)
Mutiara Pagi: Menolak Pamrih (Bagian 1912)
Bahayanya Ambisi Kekuasaan Mantan Para Penguasa
Ketum Dekopin Minta Jabar Segera Gelar Muswil
Kang Lepi Kenang Almarhum Pak TMS Sebagai Pemimpin Hebat dan Visioner
Revisi KUHAP Harus Komprehensif (Bagian 1)
Kalimantan Memanggil, Strategi Revolusioner Transmigrasi Berkeadilan untuk Masa Depan Berkelanjutan
Mutiara Pagi: Kita adalah Pelangi (Bagian 1913)
Sibuk Merawat Fisik, Namun Jiwa Sekarat