Journalnusantara.com - Lebaran tahun ini, yaitu 1 Syawal 1446 H, jatuh pada hari Senin, 31 Maret 2025. Hal ini berdasarkan pada Ijtima' Bulan-Matahari yang terjadi pada 29 Ramadhan pukul 17:58:27 WIB.
Tinggi hilal mar'ie di Indonesia pada 29 Ramadhan 1446 H bervariasi antara –2º 51' hingga –0º 41'. Elongasi hilal haqiqi juga bervariasi antara 2º 58' hingga 3º 01'.
Pada 29 Ramadhan, lama hilal di atas ufuk di seluruh Indonesia adalah 0 detik. Kedudukan hilal di seluruh Indonesia, baik dari segi tinggi hilal mar'ie maupun elongasi hilal haqiqi, berada di bawah ufuk dan di bawah kriteria Imkan Rukyah.
Dengan demikian, umur bulan Ramadhan 1446 H adalah 30 hari.
Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Makna Sabda Rasulullah SAW:
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي مَعْنَى قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "فَإِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَأَقْدِرُوا لَهُ"
Para ulama berbeda pendapat mengenai makna dari sabda Rasulullah SAW: "Jika hilal tertutup awan dari pandanganmu, maka perkirakanlah."
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan sebagian kecil ulama, maksudnya adalah "Persempitlah dan anggap hilal berada di balik awan." Mereka mewajibkan untuk berniat puasa pada malam tersebut.
Sementara itu, Imam Mutharrif bin Abdullah, Abu al-Abbas ibnu Suraij, Ibnu Qutaibah, dan lainnya berpendapat bahwa maksudnya adalah perhitungan dengan hisab peredaran bulan.
Sedangkan Imam Malik, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, dan mayoritas ulama salaf serta khalaf berpendapat bahwa maksudnya adalah memperkirakan bulan menjadi genap 30 hari.
Ilmu Falak Sebagai Dasar Ru'yatul Hilal:
وَهَهُنَا صُورَةٌ أُخْرَى وَهُوَ أَنْ يَدُلَّ الْحِسَابُ عَلَى عَدَمِ إمْكَانِ رُؤْيَتِهِ وَيُدْرَكُ ذَلِكَ بِمُقَدَّمَاتٍ قَطْعِيَّةٍ وَيَكُونُ فِي غَايَةِ الْقُرْبِ مِنْ الشَّمْسِ فَفِي هَذِهِ الْحَالَةِ لَا يُمْكِنُ فَرْضُ رُؤْيَتِنَا لَهُ حِسًّا لِأَنَّهُ يَسْتَحِيلُ فَلَوْ أَخْبَرَنَا بِهِ مُخْبِرٌ وَاحِدٌ أَوْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَحْتَمِلُ خَبَرُهُ الْكَذِبَ أَوْ الْغَلَطَ فَأَلَّذِي يُتَّجَهُ قَبُولُ هَذَا الْخَبَرِ وَحَمْلُهُ عَلَى الْكَذِبِ أَوْ الْغَلَطِ وَلَوْ شَهِدَ بِهِ شَاهِدَانِ لَمْ تُقْبَلْ شَهَادَتُهُمَا لِأَنَّ الْحِسَابَ قَطْعِيٌّ وَالشَّهَادَةَ وَالْخَبَرَ ظَنِّيَّانِ
Di sini ada kemungkinan lainnya, yaitu jika hisab menunjukkan bahwa tidak mungkin melihat hilal. Kepastian ini didasarkan pada premis-premis yang pasti dan posisi hilal yang sangat dekat dengan matahari, sehingga dalam kondisi ini, hilal tidak dapat terlihat secara nyata.
Jika ada seseorang atau lebih yang mengaku telah melihat hilal, dan ada kemungkinan mereka berbohong, maka pendapat yang kuat adalah menolak kabar tersebut sebagai palsu atau salah.
Artikel Terkait
Menjadi Bintang di Malam Ramadan
Keberkahan Terakhir di Bulan Ramadan
Mutiara Pagi: Bulan Suci Beranjak Pergi (Bagian 1793)
Cahaya di Penghujung Ramadan
Ayo Mudik
Regenerasi Petani dan Masa Depan Sektor Pertanian
Kapolri Optimalkan Pelayanan Jelang Puncak Arus Mudik Lebaran 2025, Fokuskan Rekayasa Lalu Lintas
Mutiara Pagi: Cahaya Senja Ramadan (Bagian 1794)
Air Mata di Penghujung Ramadan
Mataram Menguasai Priangan