Journalnusantara.com - Mataram dapat berkuasa berkat keberhasilannya menguasai Cirebon, yang memang memiliki hubungan erat dengan Jawa.
Cirebon memanfaatkan peran Sunan Gunung Djati untuk menarik raja-raja Sunda lainnya agar bergabung dengan Mataram, seperti Suriadiwangsa, keturunan Cirebon dari Pangeran Ratu dan Harisbaya.
Cirebon bahkan menyerahkan wilayah Sumedang kepada Mataram begitu saja, yang membuat pejabat Sumedang lainnya kecewa. Hal ini menyebabkan wilayah kekuasaan Sultan Agung semakin meluas.
Pada tahun 1651, Cirebon berusaha membujuk Banten atas perintah Susuhunan Amangkurat I. Mereka kembali mengatasnamakan "persaudaraan", namun untungnya Sultan Banten tetap waspada dan tidak terbawa dalam kebijakan yang merugikan. Mengorbankan negara berdaulat demi nama persaudaraan adalah tindakan yang bodoh dan memalukan.
Pada tahun 1677, putra mahkota Cirebon diculik oleh Amangkurat I. Banten kemudian membantu membebaskan putra mahkota tersebut sekaligus memberikan dukungan kepada Trunajaya.
Pada 1680, Sultan Ageng Tirtayasa membelah Cirebon menjadi tiga bagian untuk mencegah kontrol dari pihak luar.
Kemudian, pada 1681, Cirebon menjadi wilayah VOC dan mengkhianati Banten dengan melanggar perjanjian yang ada. Akibatnya, Banten melakukan teror terhadap Cirebon.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Aroma Doa Ramadan (Bagian 1792)
Menjadi Bintang di Malam Ramadan
Keberkahan Terakhir di Bulan Ramadan
Mutiara Pagi: Bulan Suci Beranjak Pergi (Bagian 1793)
Cahaya di Penghujung Ramadan
Ayo Mudik
Regenerasi Petani dan Masa Depan Sektor Pertanian
Kapolri Optimalkan Pelayanan Jelang Puncak Arus Mudik Lebaran 2025, Fokuskan Rekayasa Lalu Lintas
Mutiara Pagi: Cahaya Senja Ramadan (Bagian 1794)
Air Mata di Penghujung Ramadan