Menauladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 16 Juni 2023 | 21:26 WIB
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS

Baca Juga: Artificial Intelligence sebagai Malin Kundang Baru?

Ibrahim dan karakter demokratis

Ada satu catatan ringan tapi penting dari kepemimpinan Ibrahim adalah bahwa beliau selalu mendengarkan aspiarasi masyarakatnya. Hal ini terindikasi jelas ketika meminta opini anaknya menyikapi perintah Allah untuk menyembelihnya:

فلما بلغ معه السعي قال يابني اني اري في المنام اني اذبحك فانظر ماذا تري قال ياابت افعل ماتومر ستجديني ان شاء الله من الصابرين
“Maka ketika dia (Ismail) mencapai umur balig dia (Ibrahim) berkata: Wahai anakku, Sesungguhnya Aku bermimpi menyembelihmu, apa pendapatmu? Dia(Ismail) berkata: Wahai ayahku, lakukan apa yang diperintahkan kepadamu niscaya insya Allah engkau akan mendapatiku bersabar”.

Keinginan untuk mendengarkan, walaupun dari seorang anak remaja, dan berkenaan dengan urusan keyakinan, menjadikan Ibrahim menjadi “pemimpin” yang bijak. Tidaklah barangkali berlebihan jika saya memakai bahasa politik modern bahwa Ibrahim “master of democracy”?

Kepemimpinan itu Amanah

Kepemimpinan itu memang karunia, bukan sekedar kehormatan. Kepemimpinan adalah karunia amanah, kesempatan yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki untuk melakukan “pengabdian” kepadaNya melalui pelayanan publik. Dan karenanya pemimpin yang adil akan berada di posisi para nabi di hari Akhirat.

Kepemimpnan itu “karunia”, bahkan masuk dalam lingkaran “takdir”. Allahlah yang memberikan kepemimpinan kepada Ibrahim: أني جاعلك للناس اماما (sungguh Kami jadikan kamu (Wahai Ibrahim) sebagai pemimpin bagi manusia).

Al-Quran bahkan tegas menyampaikan:

قل اللهم مالك الملك تؤتي الملك من تشاء وتنزع الملك من تشاء
“Wahai Allah, Engkau memberikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendak”.

Manusia yang menyadari hakikat ini tidak akan berambisi buta dalam memperebutkan kepemimpinan. Tidak akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kepemimpinan. Tidak akan melakukan fitnah dan cara-cara busuk lainnya demi meraih kepemimpina itu.

Karena memang yakin Allahlah yang memberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Di tanganNya tergenggam kekuasaan langit dan bumi: بيده الملك وهو علي كل شيء قدير

*Misi Kepemimpinan Ibrahim*

Misi kepemimpinan Ibrahim itu tersimpulkan dalam doa yang beliau dipanjatkan kepada Allah bagi negeri dan dan penduduknya:

واذقال ابراهيم رب اجعل هذا البلد امنا وارزق أهله من الثمرات من أمن منهم بالله واليوم الاخر قال ومن كفر امتعهقليلا ثم اضطره الي عذاب إنار وبئس المصير.
“Dan ingat ketika Ibrahim berdoa: wahai Tuhan kami jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan karuniakan kepada penduduknya buah-buahan bagi yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Dia (Allah) berfirman: tapi barang siapa yang ingkar maka Kami akan berikan kesenangan sejenak, lalu kami tarik mereka ke dalam api neraka, tempat kembali yang buruk”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X