Oleh: Imam Shamsi Ali (Presiden Nusantara Foundation, USA)
Kebesaran Allah dan Kehidupan
Saya memulai tulisan ini dengan mengajak kita semua menundukkan wajah kita yang mulia, merendahkan jiwa kita yang hanif, merenungkan “azhomatullah” (keagungan Allah) seraya mensyukuri segala nikmatNya yang tiada batas yang dikarunikan kepada kita semua.
Kebesaran Ilahi yang kita kumandangkan dengan alunan “takbir, tahmid, dan tahlil” adalah ekspresi iman, sekaligus bentuk komitmen kita untuk menjadikan Allah “Jalla Jalaaluh” sebagai “rujukan kehidupan” kita.
Bahwa dalam hidup ini semuanya bermuara dari SATU sumber, Allahus Shomad. Kita ada, kita berada atau tidak berada, kita kuat atau lemah, menguasai atau di kuasai, bahkan kita hidup dan pasti suatu saat nanti kita mati, semuanya karena Allah SWT.
Esensi falsafah hidup yang seperti inilah yang tersimpulkan dalam pengakuan iman kita: “لا اله الا الله”. Bahwa tiada yang punya hak kekuasaan, keagungan, penyembahan dan pujian kecuali Allah, Tuhan Pemilik langit dan bumi.
Inilah ikrar awal jamaah haji ketika memulai niat manasiknya:
لبيك اللهم لبيك لا شريك لك ان الحمد والنعمة لك والملك لإشراك لك
“Kami datang ya Tuhan memenuhi panggilanMu, tiada sekutu bagiMu. Sesungguhnya seluruh pujian, kenikmatan dan kekuasaan adalah milikMu. Tiada sekutu bagiMu”.
Ini pulalah yang menjadi falsafah hidup sejati seorang Mukmin:
انا لله وانااليه راجعون
Bahwasanya kita, dan segala yang ada pada kita; anak isteri, harta benda, kekuasaan dan kehormatan duniawi kita, semuanya adalah milik Allah yang menjadi titipan sementara kepada kita dan pada akhirnya juga akan kembali kepadaNya.
Hadirnya Allah dalam hidup kita, baik pada tataran individu maupun kolektif, melahirkan kekuatan dan energi kehidupan yang maha dahsyat. Manusia lemah dengan dirinya. Tapi menjadi kuat dengan Sang Pencipta, Allah SWT. Dunia dengan segala tantangan dan godaannya menjadi ringan, bahkan kecil ketika “azhomatullah” (keagungan Allah) telah hadir dalam hidup manusia.
Sungguh “ma’iyatullah” (kebersamaan dengan Allah) adalah sebuah pegangan yang tak akan goyah. Pegangan yang dalam istilah Al-Quran disebut “العروة الوثقي” (pegangan yang kokoh).
Pegangan inilah yang menjadikan manusia stabil dalam hidupnya. Apapun warna dan bagaimanapun pergerakan hidup yang terjadi tidak akan menjadikannya goyah dan rapuh.
“فمن يكفر بالطاغوت ويومن بالله فقداستمسك بالعروة الوثقي لاانفصام لها”
Artikel Terkait
Lima Destinasi Wisata Yang Bisa Dikunjungi Saat Liburan ke Pangandaran
Tingkatkan Kualitas SDM, Kunci Sukses Menuju Desa Wisata
Artificial Intelligence sebagai Malin Kundang Baru?
Puteri Indonesia Aceh 2023, Dwi Annisa Ramadhanty Bicara Pentingnya Donor Darah
Aktif Berkegiatan Sosial, Dewi Rachmawati Masuk Top 20 Miss Universe Indonesia Jawa Barat 2023
Desa WIsata Nglanggeran Terima Penghargaam dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO)
Puteri Indonesia 2023, Farhana Nariswari Kerap Jadi Sorotan Karena Hal Ini
Jelang Pemilu 2024, Bawaslu Cianjur Terus Verifikasi Data Pemilih Yang Kemungkinan Telah Meninggal
KPU DKI Jakarta Tunggu Perbaikan Berkas Pencalegan Ganda Aldi Taher
Partai Hanura DPC Cianjur Dukung Penuh Putusan Mahkamah Konstirusi Terkait Sistem Proporsional Terbuka