Menauladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 16 Juni 2023 | 21:26 WIB
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS

Mereka itulah manusia-manusia “Ulul al-baab”. Solid dan mapan hatinya, tajam daya nalarnya. Mereka ini yang digambarkan dalam Al-Qur’an:

الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلي جنوبهم ويتفكرون في خلق السموات والارض.
“Mereka yang mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Dan mereka yang memikirkan ciptaan Allah, baik yang di langit maupun yang dibumi”.

Ujian dan kematangan hidup

Ketauldanan kedua dari Ibrahim AS adalah bahwa hidup ini merupakan perjalanan dari satu titik ke titik yang sama. Bagaikan tawaf, berputar berkeliling dengan irama dan tujuan yang sama. Namun perlu diingat, Ka’bah harus selalu menjadi sentra perputaran itu.

Allah harus menjadi pusat perputaran hidup manusia. Kaya atau miskin Allah menjadi pusat kehidupan. Kuat atau lemah Allah menjadi pusat kehidupan. Merasakan kemudahan atau kesulitan hidup Allah tetap menjadi pusat kehidupan.

Ibrahim AS sendiri menegaskan bahwa dirinya terus bergerak menuju kepada Allah:

اني ذاهب الي ربي
Sesungguhnya aku berjalan menuju Tuhanku”

Realita hidup yang demikian menuntut kematangan atau kedewasaan dalam menjalaninya. Tanpa kedewasaan manusia akan menjadi “cengeng” dan lemah.

Untuk menumbuhkan kematangan dan kedewasaan hidup itulah manusia akan ditempa dengan berbagai ujian.

Di sinilah Ibrahim AS tampil sebagai sosok tauladan yang sangat luar biasa. Ibrahim AS mengalami tempaan itu dari awal perjalanan hidupnya hingga mencapai puncak kematangannya.

Ragam bentuk ujian yang Allah SWT berikan kepada Ibrahim AS itu bukan karena ketidak sukaan. Tapi karena kecintaanNya kepadanya. Ibrahim AS sendiri adalah sosok hambaNya yang “khalilullah” (kekasih Allah).

Dari ujian keluarga, ke sahabat, hingga ujian publik dan kekuasaan. Ujian yang bersifat emosional, spiritual keimanan, hingga kepada yang bersifat fisikal dan material.

Cobaan besar pertama yang Ibrahim harus lalui adalah ketika menyampaikan kebenaran kepada masyarakatnya. Dengan caranya Ibrahim berjuang menegakkan “Kalimah Tauhid”, beliau ditangkap bahkan dieksekusi dengan hukuman mati.

Tapi kematangan mentalitas dalam keimanan yang solid itu tidak menjadikannya gentar sedikitpun. Di saat tawaran bantuan para malaikat silih berganti, semuanya ditampik dengan keyakinan penuh bahwa hanya Allah yang punya kuasa sejati.

Dengan keyakinan inilah Allah memerintahkan api yang menggunung itu menjadi dingin bahkan menyenangkan bagi Ibrahim:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X