Menauladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 16 Juni 2023 | 21:26 WIB
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS

Ada tiga hal penting yang menjadi misi utama kepemimpinan Ibrahim:

Pertama, Al-amnu (keamanan). Sebab dengan keamanan itu akan tercipta stabilitas). Dan hanya dengan stabilitas akan terbangun kemakmuran.

Kedua, al-Rizqu (rezeki). Dengan pembangunan yang ditopang oleh stabilitas tadi akan tercipta kesejahteraan umum.

Ketiga, al-adlu (keadilan). Tapi kesejahteraan yang benar hanya terjadi ketika terbangun di atas asas keadilan. Kesejahteraan yang berkeadilan itu menjadi misi terpenting dari kepemimpinan.

Kontekstualisasi kepemimpinan Ibrahim

Jika kepemimpinan Ibrahim AS kita kontekstualisasikan dalam kehidupan berbangsa kita, maka semua itu secara substantif tertuang dalam pasal-pasal di Falsafah negara kita, Pancasila.

Kedalaman spiritualitas yang terpatri dalam kepemimpin Ibrahim AS itu terwakili dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Kesabarannya membangun etika dalam kepemimpinannya yang berkarakter Itu terwakili dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab.

Sosoknya sebagai “ummah qanita” merupakan simbolisasi dari Persatuan Kebangsaan kita.

Bahkan moral dan integritas kepemimpinannya itulah yang tertuang dalam sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Sementara misi kepemimpinannya untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kesejahteraan umum tersimpulkan dalam sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Doa Ibrahim untuk penduduk Mekah adalah bentuk “cinta negeri “(hubbub wathon). Dan karenanya nasionalisme, selama dimaksudkan untuk kepentingan umum dalam berbangsa dan bernegara adalah bagian dari spirit Islam.

Bersyukurlah kita bangsa Indonesia. Bangsa yang dalam sejarahnya tidak pernah terpisah dari nilai-nilai spiritualitas dan agama. Dan yang lebih khusus lagi, peranan agama dan ulama dari masa ke masa, dalam segala zaman dan situasi, tidak pernah dipandang sebelah mata.

Maka dalam merayakan pengorbanan Ibrahim, sekaligus kita bangun komitmen kepemimpinan yang berkarakter, berakhlakul karimah.

Kepemimpinan yang mengedepankan “Rahmah” (kasih sayang) kepada rakyat. Terlebih kepada mereka yang memang berada pada posisi yang termarjinalkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X