Menauladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 16 Juni 2023 | 21:26 WIB
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS

Ketauladanan pertama dari sejarah perjalanan hidup Ibrahim AS adalah bahwa dalam proses menemukan “mutiara iman” diperlukan pencarian yang sungguh-sungguh. Tapi dengan kesungguhan dua instrumen yang Allah berikan kepada manusia: akal dan hati.

Kesungguhan hati itulah yang diekspresikan dalam Al-Quran:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وان الله لمع المحسنين.
“Dan mereka yang bersungguh-sungguh pada Kami akan Kami tunjuki jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang muhsinin”.

Tapi manusia juga diciptakan dengan daya nalar. Karenanya pada diri manusia ada “kuriositas” (keingin tahuan) yang tinggi. Karenanya proses menemukan hakikat iman memerlukan rasionalitas yang tajam pula.

Kisah pencarian Tuhan oleh Ibrahim di tengah rimba kuriositasnya (keingin tahuan) itu dikisahkan secara cantik dalam Al-Quran, Surah al-An’am: 76-79.

Dari proses analisa dan pengamatan panjang melalui metode “at-tafkiir fil-khalq”, dari bintang-bintang, bulan, hingga matahari, pada akhirnya mengantar Ibrahim AS sampai kepada kesimpulan:

اني وجهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين
“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Rabb yang mencipatakan langit dan bumi, menerima agama yang lurus. Dan aku tidaklah Aku termasuk orang-orang yang mempersekutukanNya”.

Maka keyakinan bukanlah perasaan atau bentuk emosi semata. Tapi sebuah kemantapan jiwa melalui cerna rasionalitas yang kokoh.

Keimanan yang dilandasi oleh rasa emosi semata akan melahirkan karakter keagamaan yang sempit, dan kerap kali melahirkan prilaku emosional, bahkan irrational yang destruktif.

Di sinilah rahasianya kenapa ayat-ayat pertama Al-Quran yang diwahyukan kepada baginda Rasul adalah perintah untuk memaksimalkan daya nalar. Perintah membaca: اقرأ.

Baca Juga: Aktif Berkegiatan Sosial, Dewi Rachmawati Masuk Top 20 Miss Universe Indonesia Jawa Barat 2023
Rasionalitas sesungguhnya memang menjadi salah satu karakter ajaran Islam, sekaligus kunci kekuatannya. Dengan pemikiran dan rasionalitas yang luas akan tumbuh “al-yaqiin” atau keyakinan hati yang solid.

Suasana hati dengan keyakinan seperti inilah yang digambarkan oleh Al-Quran:

“كشجرةطيبة اصلها ثابت وفرعها في السماء تؤتي أكلها كل حين باذن ربها (bagaikan pohon yang bagus, akarnya menghunjam ke dalam tanah, memberikan buah-buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya).

Sungguh di zaman sekarang ini umat dituntut untuk membangun keseimbangan “iman” dan “rasionalitas”. Berbagai prilaku destruktif yang terjadi akhir-akhir ini seringkali disebabkan oleh emosi yang terimbangi oleh pemikiran yang rasional.

Keimanan yang solid melahirkan kekuatan dan kematangan hidup. Rasionalitas berpikir yang sehat melahirkan kedewasaan dan kebijaksanaan (hikmah) dalam berpikir dan bersikap. Saya sangat yakin, bangsa dan dunia kita saat ini memerlukan manusia-manusia seperti ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X