Menauladani Ibrahim AS dalam Pengabdian dan Kepemimpinan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 16 Juni 2023 | 21:26 WIB
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS
Gambaran Kota Makkah saat masa Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS

“يا نار كوني بردا و سلاما علي ابراهيم
(Wahai api, dinginlah dan menjadilah keselamatan bagi Ibrahim).

Kuasa Allah berlaku. Api yang panas menjadi dingin bahkan menyenangkan Ibrahim dengan kuasaNya. Sebuah peristiwa yang melampaui daya nalar manusia yang kerap dibatasi oleh segala keterbatasaannya.

Logika dan skill komunikasi dalam dakwah

Ada sebuah catatan menarik yang terjadi ketika terjadi dialog antara sang raja dan Ibrahim sebelum eksekusi itu terjadi: “Kamukah yang merusak tuhan-tuhan kami Wahai Ibrahim?” Ibrahim menjawab: “Tapi patung besar itulah sendiri yang melakukannya. Tanyakan kepadanya jika mereka mampu berbicara”.

Sang raja menjawab: “Engkau tahu kalau mereka itu tidak berbicara”.

Yang segera direspon oleh Ibrahim dengan kecerdikan dan logika: “lalu wajarkah kalian menyembah mereka selain Allah? Sedangkan mereka tidak memberi manfaat apa-apa?”.

Pelajaran terpenting dari petikan dialog antara Ibrahim dan raja itu adalah bahwa seorang Muslim, apalagi para ulama dan da’i harus memiliki ketajaman logika, sekaligus kapabilitas dalam mengkomunikasikan kebenaran.

Kelemahan logika dan ketidak mampuan mengkomunikasikan kebeneran melahirkan da’i-da’i yang kerap bermain dogma, mudah menyalahkan, bahkan mengkafirkan. Yang lebih berbahaya lagi ketika para da’i melakukan dakwah dengan metode “bolduzer”.

Baca Juga: Puteri Indonesia Aceh 2023, Dwi Annisa Ramadhanty Bicara Pentingnya Donor Darah

Menghancurkan segala harapan hidayah atas nama dakwah. Bahkan lebih berbahaya meruntuhkan keindahan wajah Islam itu sendiri.

Ujian terbesar kehidupan: pengorbanan*

Setelah settle atau menetap di negeri yang penuh barokah, Jerusalem, dan dengan proses panjang, datanglah ujian besar lainnya.

Setelah sekian lama Ibrahim dan isterinya Sarah menikah, mereka tak kunjung juga dikaruniai anak. Bahkan keduanya telah mencapai umur uzur.

Ibrahim pun semakin khawatir akan kesinambungan dakwahnya. Hal ini disadari oleh isterinya, Sarah, maka Ibrahimpun diminta olehnya untuk menikahi hamba sahaya mereka, Hajar.

Melalui Hajar Allah mengaruniakan seorang putra yang diberi nama Ismail AS. Alangkah bahagianya Ibrahim dengan karunia anak yang telah lama ditunggu-tunggu itu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X