Mengapa Lebaran Berbeda

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 24 April 2023 | 14:03 WIB
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Muhammad Cholil Nafis  (FOTO ANTARA/HO-MUI)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) K.H. Muhammad Cholil Nafis (FOTO ANTARA/HO-MUI)

Oleh M. Cholil Nafis, Lc., Ph D.

Kecenderungan berbeda dalam memahami agama itu sudah terjadi sejak Nabi saw. Ada yang cenderung tekstual dan ada yang cenderung kontekstual. Seperti sahabat Nabi saw. yang mereka mendengar langsung sabda Nabi saw. pun masih terjadi Perbedaan dalam memahami perintah dan pelaksanaannya. Hadits berikut menjadi ilustrasi mengapa terjadi perbedaan?

‎عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
‎ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمْ الْعَصْرَ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرِدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Dari Ibnu Umar RA yang berkata, “Nabi SAW berkata pada hari Perang Ahzab, ‘Jangan lah seorang dari kalian shalat Ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah. Sebagian di antara sahabat kemudian melaksanakan shalat Ashar di jalan. Sebagian lagi berkata, ‘kami tidak akan shalat Ashar sampai di kampung Bani Quraizhah. Sebagian lagi berkata, ‘Kita shalat (sekarang), Nabi tidak menginginkan pengertian tekstualnya.’ Lalu permasalahan tersebut diadukan kepada Nabi saw. Nabi saw. tidak mencela salah satu dari dua golongan tersebut. (HR Al-Bukhari).

Hadis ini menunjukkan bahwa ada sahabat Nabi yang beraliran tekstual, yang memahami hadis apa adanya. Ada pula sahabat Nabi yang beraliran kontekstual, yang mencoba memahami hadis berdasarkan substansinya, konteksnya, dan mempertimbangkan teks lain yang terkait.

Teks hadits menyebutkan tentang larangan disertai kalimat penguat bahwa jangan shalat kecuali di kampung Qaraizhah sehingga sebagian sahabat shalatnya ‘ashar terlambat sampe’ malam hari karena menyelesaikan perjalanan sampai Bani Quraizhah. Sedangkan sebagian sahabat lain melakukan shalat di perjalanan krn konteksnya shalat tepat waktu dan larangan itu untuk segera sampai lampung Quraizhah di sore hari. Keduanya dibenarkan oleh Rasulullah saw dan sah shalatnya.

Menurut Kiai Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalatu Ahlissunnah wal-Jema’ah, bahwa hadits tersebut menunjukkan bahwa umat muslim dalam beragama menjalankan sesuai dengan kadar kemampuannya dan keyakinannya asalkan bukan karena dorongan hawa nafsu.

Baca Juga: Lebaran Ala Maharani Devi, Duta Pariwisata Indonesia Favorit 2021

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, ketika menjelaskan hadis tersebut, mengatakan bahwa kedua aliran pemahaman tersebut merupakan bentuk ijtihad yang direstui oleh Nabi. Nabi tidak mencela salah satunya. Karenanya, kedua golongan tidak boleh saling mencela.

Dalam konteks lebaran 1444 H./2023 dimana sebagian umat ada yang berlebaran hari Jum’at tanggal 21 April dan ada yang berlebaran 22 April 2023. Keduanya sama-sama dalam keyakinan dan prinsip beragama yang sama, hanya berbeda dalam menentukan awal bulan dan berlebaran. Sehingga meskipun harinya berbeda namun sama-sama berlebaran dan menganggap 1 syawal 1444 H.

Perbedaan ini karena metode yang digunakan. Yaitu hisab wujudul hilal hakiki (adanya bulan yanh sebenarnya) dengan cara memperkirakan menurut ilmu hisab. Sedangkan sebagian yang lain menggunakan ru’yatul hilal bil fi’li (melihat hilal secara langsung) yang mengacu pada ilmu hisab imkanurru’yah (kemungkinan melihat bulan).

Kedua metode tersebut dibenarkan dalam Islam baik secara sendiri-sendiri atau dikombinasi. Sebagaimana sabda Rasulullaj saw.

لا تصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فاقدروا له
‏“Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (ramadan) dan janganlah kamu berhenti berpuasa sehingga kamu melihat hilal syawal, jika jika hilal tertutup bagimu maka perkirakanlah.

‏Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij mengkompromikan dua riwayat hadis di atas dengan menggunakan pendekatan yang dalam istilah sekarang disebut dengan teori multi-dimensi (نظرية تعدد الأبعاد), yaitu bahwa sabda Nabi (فاقدرواله) bermakna: “perkirakanlah hilal itu dengan menghitung posisi-posisi-nya”. Ini ditujukan kepada mereka yang oleh Allah Swt dianugerahi pengetahuan tentang hisab,

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X