Pembedahan bukanlah penghancuran. Pembedahan adalah prosedur penyelamatan.
Seorang dokter yang membelah tubuh pasien bukan sedang membenci tubuh itu. Ia justru sedang berusaha mempertahankan kehidupannya. Pisau bedah memang melukai, tetapi ia melukai agar luka yang lebih besar dapat dihentikan. Demikian pula bangsa ini. Ada saat ketika mempertahankan sistem yang sakit justru menjadi tindakan paling berbahaya, sementara membongkar dan membangunnya kembali adalah bentuk cinta yang paling bertanggung jawab.
Karena itu, keberanian hari ini bukan sekadar keberanian mengganti pemimpin, melainkan keberanian memeriksa ulang seluruh rancangan rumah kebangsaan: bagaimana kekuasaan dibatasi, bagaimana hukum dibebaskan dari kepentingan, bagaimana kekayaan negeri dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat, bagaimana pendidikan membentuk manusia yang merdeka berpikir, dan bagaimana negara kembali menjadi pelayan kehidupan, bukan pelayan segelintir kepentingan.
Sejarah tidak pernah mengingat tinggi tiang layar, megahnya lambung, atau indahnya cat pada badan kapal. Sejarah hanya mengingat apakah, ketika retakan itu tak lagi dapat ditambal, masih ada cukup kebijaksanaan untuk menyelamatkan manusianya.
Sebab bangsa tidak pernah identik dengan kapalnya.
Bangsa adalah orang-orang yang selamat. Bangsa adalah mereka yang berani belajar dari hampir-karamnya sebuah pelayaran. Bangsa adalah mereka yang, setelah menepi dengan sekoci dan pelampung, bergotong royong membangun bahtera baru dari pengalaman, kejujuran, dan keberanian.
Dunia baru tidak pernah lahir dari penyangkalan. Ia lahir dari keberanian mengakui kenyataan, menyiapkan penyelamatan, dan melakukan pembaruan yang selama ini ditunda. Sebab retakan yang terus disangkal tidak akan pernah menutup dirinya sendiri. Setiap penundaan hanya membuat air semakin dalam, sementara kesempatan untuk menyelamatkan semua orang semakin tipis.
Masih ada sedikit waktu untuk memilih.
Bukan memilih antara optimisme atau pesimisme. Bukan memilih antara mempertahankan kapal lama atau mengutuknya hingga tenggelam. Melainkan memilih apakah kita akan terus memoles lambung yang telah rapuh, atau dengan keberanian yang jernih melakukan penyelamatan, membedah yang sakit, dan menyiapkan bahtera baru yang lebih adil, lebih kokoh, dan lebih layak membawa seluruh anak bangsa menuju dermaga yang kita impikan.
Artikel Terkait
Santri Lintas Jenjang Ikuti Sanlat Liburan di Pondok Pesantren Mama Cipoek At-Tafsiri
Wahai Mentari Pagi!
Pelopor Komunikasi Islam di Cianjur, Prodi KPI STAINU Siapkan Lulusan Media Digital
Peringatan Hari Bhayangkara Ke-80 di Cianjur, Momentum Perkuat Soliditas Lintas Sektoral
Lewat Kerja Nyata Hari Bhayangkara, Polres Cianjur Tekad Rebut Kepercayaan Publik
Membaca Arah Bangsa, Mengapa Literasi Politik Kini Menjadi Kebutuhan Strategis Kaum Santri
Dari Seragam ke Hati: Saat Polisi Menjadi Pelindung Warga
Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)
Lewat Olahraga dan Seni Budaya, Polsek Cibeber Cianjur Rekatkan Sinergitas Bersama Warga
Generasi Baru, Pro Kemanusiaan dan Keadilan Menang