Menyegarkan diri bukan tanda kemalasan, tapi bentuk syukur atas karunia kehidupan. Karena hanya hati yang segar yang mampu jernih mencintai,
hanya jiwa yang tenang yang mampu berpikir jernih, dan hanya pikiran yang lapang yang bisa menampung hikmah dan ilmu.
Belajarlah dari Rasulullah, dari para salafus shalih, dan dari sunyi malam yang menenangkan. Belajarlah menyapa dirimu sendiri dengan kasih sayang.
Jangan tunggu jiwa retak baru kau ingin menenun kembali. Jangan tunggu badai datang baru kau mencari pelabuhan.
Sebab dalam setiap jeda yang disadari,
ada kehidupan yang diperbarui.
Menyegarkan diri bukan sekadar hak, tapi amanah. Agar kita tak sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar menjalani hidup dengan rasa.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa jauh kita melangkah yang menentukan makna hidup, tetapi seberapa dalam kita memahami langkah itu sendiri.
Artikel Terkait
Technische Hoogeschool Bandung, Cikal Bakal Institut Teknologi Bandung
Ajaran Yahudi: Di antara Monoteisme Ketat dan Etnosentrisme Teologis
LRT Jakarta Fase 1B: Progres Pesat, Konektivitas Jakarta Kian Terwujud!
Tuntas Semester 2 Doktoral MPI, Fondasi Inovasi dan Akselerasi Pendidikan Berbasis Digital
RAT KSU YAHATI: “Koperasi Kuat, Anggota Sejahtera”
Ledakan Bom Ketiga: Kisah Penghormatan Jepang kepada Mohammad Natsir yang Terlupakan
Mengenang Sejarah Hari Asyura
Indonesia Adalah Outlier dalam Peta Global Pendidikan Guru
Mutiara Pagi: Keinginan (Bagian 1894)
Kolaborasi DEMA dan Disbudpar: Duta Kampus Lahir di Padi Pandanwangi