Rahasia Ketenangan yang Hilang di Tengah Kesibukan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 8 Juli 2025 | 10:00 WIB
Ilustrasi ketenangan hati dan pikiran. (freepik/vecstock)
Ilustrasi ketenangan hati dan pikiran. (freepik/vecstock)

Menyegarkan diri bukan tanda kemalasan, tapi bentuk syukur atas karunia kehidupan. Karena hanya hati yang segar yang mampu jernih mencintai,
hanya jiwa yang tenang yang mampu berpikir jernih, dan hanya pikiran yang lapang yang bisa menampung hikmah dan ilmu.

Belajarlah dari Rasulullah, dari para salafus shalih, dan dari sunyi malam yang menenangkan. Belajarlah menyapa dirimu sendiri dengan kasih sayang.

Jangan tunggu jiwa retak baru kau ingin menenun kembali. Jangan tunggu badai datang baru kau mencari pelabuhan.
Sebab dalam setiap jeda yang disadari,
ada kehidupan yang diperbarui.

Menyegarkan diri bukan sekadar hak, tapi amanah. Agar kita tak sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar menjalani hidup dengan rasa.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa jauh kita melangkah yang menentukan makna hidup, tetapi seberapa dalam kita memahami langkah itu sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X