Tulisan ini, meskipun agak panjang, penting untuk dibaca secara tuntas agar para pembaca dapat memahami, atau setidaknya mengulang kembali, sejarah terjadinya salah satu tragedi pembantaian manusia paling mengerikan sepanjang zaman.
Drama pembantaian terhadap cucu Rasulullah ﷺ dan dzurriyyah beliau yang lain terjadi dengan sangat keji, buas, dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Saat surat dari Muslim bin Aqil bin Abi Thalib sepupu dari Husein bin Ali bin Abi Thalib yang meminta agar Sayyidina Husein segera datang ke Kufah sampai ke tangan beliau, Husein mulai bersiap untuk berangkat ke sana.
Padahal banyak yang menasihati agar beliau membatalkan niat tersebut dan memilih tinggal di Yaman, tempat yang relatif aman dan memiliki banyak pendukung. Namun Sayyidina Husein menolak saran tersebut dan tetap bersikeras untuk menuju Kufah.
Muslim bin Aqil sendiri, setelah mengirim surat kepada Sayyidina Husein, dibunuh secara keji oleh penguasa Kufah, salah satu provinsi dari Daulat Umayyah.
Jenazah Muslim digantung di depan istana Kufah dengan posisi kepala di bawah, seperti kambing yang hendak disembelih. Pemandangan tidak manusiawi ini dijadikan tontonan bagi warga Kufah, baik yang lewat secara kebetulan maupun yang sengaja datang untuk melihat. Tujuannya adalah agar warga Kufah takut dan tidak berani menentang kekuasaan.
Penduduk Madinah sebenarnya sudah memahami kerasnya tindakan Yazid bin Muawiyah dan Ubaidillah bin Ziyad terhadap siapa pun yang menentang mereka.
Mereka juga tahu sejarah kelam pengkhianatan penduduk Kufah terhadap Sahabat Ali bin Abi Thalib ketika menjadi khalifah, serta terhadap Sayyidina Hasan bin Ali yang sempat dibaiat untuk menggantikan ayahnya, tetapi kemudian ditinggalkan oleh pendukungnya sendiri.
Sayyidina Husein tidak berangkat sendirian. Ia membawa keluarganya, termasuk wanita dan anak-anak. Meski Abdullah bin Abbas telah menyarankan agar Husein berangkat sendiri dan meninggalkan keluarganya di Madinah terlebih dahulu, Husein tetap memilih membawa seluruh rombongannya.
Bersama Sayyidina Husein, turut pula beberapa saudaranya, anak-anak Hasan, dua anak Abdullah bin Ja’far, beberapa sepupunya dari keturunan Aqil bin Abi Thalib, serta beberapa sahabat Nabi yang bertekad mendukung perjuangannya.
Orang-orang Badui yang mendengar keberangkatan Husein berniat bergabung, berharap memperoleh keberkahan. Akhirnya, Husein ditemani sekitar 72 orang dalam perjalanannya ke Kufah. Mereka tidak membawa senjata, karena niat mereka bukan untuk berperang.
Setibanya di suatu tempat dekat Kufah, Ubaidillah bin Ziyad telah mempersiapkan pasukannya. Ia mengirim seribu tentara lengkap bersenjata di bawah komando Umar bin Saad bin Abi Waqqas, cucu dari sahabat Rasulullah.
Pada awalnya, Umar bin Sa’ad menolak tugas ini karena kedekatannya dengan Husein. Namun karena mendapat ancaman dari Ubaidillah bin Ziyad jika menolak, ia akan dibunuh Umar akhirnya menerimanya.
Setelah bertemu dengan Husein, Umar menanyakan maksud kedatangannya. Husein pun menunjukkan surat-surat dukungan dari warga Kufah, sebagian bahkan ditandatangani oleh orang-orang yang kini berada dalam barisan Umar. Namun mereka mengingkarinya.
Dalam dialog yang terjadi, Husein menawarkan tiga pilihan kepada Umar bin Sa’ad:
Artikel Terkait
Dari Kontraktor ke Petani Sukses, Kisah Tri Heriyanto Raup Puluhan Juta dari Budidaya Talas
Perubahan Cuaca dan Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari-hari
Technische Hoogeschool Bandung, Cikal Bakal Institut Teknologi Bandung
Ajaran Yahudi: Di antara Monoteisme Ketat dan Etnosentrisme Teologis
PPP Sebagai Alat Perjuangan Umat Islam, Menguatkan Kepemimpinan Kader di Cianjur
Mutiara Pagi: Jejak Para Bijak (Bagian 1893)
LRT Jakarta Fase 1B: Progres Pesat, Konektivitas Jakarta Kian Terwujud!
Tuntas Semester 2 Doktoral MPI, Fondasi Inovasi dan Akselerasi Pendidikan Berbasis Digital
RAT KSU YAHATI: “Koperasi Kuat, Anggota Sejahtera”
Ledakan Bom Ketiga: Kisah Penghormatan Jepang kepada Mohammad Natsir yang Terlupakan