Amerika, meski tanpa embargo, sangat bergantung pada produksi Tiongkok, teknologi Asia, dan tenaga kerja migran. Rantai pasokan terganggu sedikit saja, ekonomi bisa terguncang.
3. Mal Terbesar Dunia Tanpa Brand Global
Iran memiliki mal yang tujuh kali lebih besar dari Grand Indonesia. Namun tak ada McDonald’s, KFC, Starbucks, H&M, atau brand global lainnya. Isinya? Produk lokal. Rakyat Iran bangga memakai buatan sendiri.
Sementara kita di Indonesia dan negara lain, justru berlomba menampilkan brand asing dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pahlawan Dihormati
Di Iran, nama-nama syuhada ditulis di jalan-jalan utama. Keluarga mereka mendapat penghormatan dan perlindungan negara.
Di Amerika, banyak veteran perang hidup terlantar, menderita gangguan mental, dan terabaikan oleh sistem kesehatan yang mahal.
5. Tanpa Pengemis vs Homeless di Negara Maju
Pak Haji Mustofa berkata dengan serius,
“Di kota-kota besar Iran, tidak ada pengemis, Pak Asrul.”
Pemerintah hadir secara nyata dalam menjaga martabat rakyat. Sementara di Amerika, jumlah tunawisma mencapai ratusan ribu, bahkan di kota-kota besar seperti New York dan Los Angeles.
6. Perpustakaan Hidup vs Budaya Konten
Iran, terutama di Qom dan Tehran, punya perpustakaan yang aktif 24 jam. Anak muda membaca filsafat, tafsir, hingga riset ilmiah.
Di dunia Barat, budaya literasi perlahan digantikan oleh Netflix, TikTok, dan konten yang tak berujung.
7. Film Penuh Makna vs Hiburan Komersial
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Arogansi (Bagian 1885)
Peringati Hari Koperasi Nasional, Kopdes Sukasari Karangtengah Siapkan Doorprize dan Genjot Sosialisasi
Pernahkah kamu merasa bersalah saat beristirahat? Atau merasa gagal hanya karena tidak produktif seharian?
Menghadapi Tantangan Pluralisme di Era Digital
Mutiara Pagi: Membuang Prasangka (Bagian 1886)
Membangun Masa Depan: Pelantikan DEMA dan SEMA STISNU Cianjur Berintegritas sebagai Arsitek Perubahan
Hijrah dari Kemiskinan
Mutiara Pagi: Secepat Angin (Bagian 1887)
Kontemplatif: Stimulatif Belajar Guna Mencetak Karakter Seseorang yang 'Berdaya dan Digdaya
Mutiara Pagi: Bumi Tak Angkuh (Bagian 1888)