Memimpin Tanpa Mendidik

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 7 Agustus 2025 | 17:00 WIB
Keindahan alam Yogyakarta yang memukau, salah satu dari 7 destinasi wajib yang tak boleh Anda lewatkan. (Pexels.com/Muhammad Akfi)
Keindahan alam Yogyakarta yang memukau, salah satu dari 7 destinasi wajib yang tak boleh Anda lewatkan. (Pexels.com/Muhammad Akfi)


Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, di lembar pertama konstitusi di altar kata-kata yang disucikan terpatri mandat: misi pemerintahan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tugas pemimpin bukan sekadar menampung aspirasi, tapi menjadi suri teladan dan pendidik pelita di tengah gulita, pembangkit keberanian menempuh jalan yang belum dikenal.

Namun di negeri yang tanahnya serupa rahim semesta, para pemimpin menjelma mercusuar tanpa cahaya: menjulang tinggi, tapi tak menuntun. Mereka bicara tentang masa depan, tapi lupa menyalakan obor pengetahuan di dada rakyat.

Janji ditebar, tapi akal dibungkam; kata-kata menjulang, tapi langkah kehilangan arah. Tiada keteladanan, tiada tuntunan; ucapan dan tindakan berseberangan.

Kekuasaan tegak dalam struktur, namun kosong dari makna yang mencerdaskan. Mereka lebih suka rakyat membebek daripada berpikir dengan akal menyala. Padahal pikiran merdeka tak bisa dikekang slogan, tak bisa dibungkam seremoni.

Jiwa tanpa pendidikan mudah disesatkan, mudah dilupakan. Mereka kira rakyat cukup diberi makan, dipagari aturan. Tapi manusia bukan ternak; ia nyala ruh dan mata air akal yang mesti ditumbuhkan, diasah, diajak berdialog.

Tanpa mencerdaskan, kekuasaan hanyalah bayang panjang di tanah gersang: besar di siang hari, lenyap saat cahaya padam.

Pemimpin sejati tak hanya penentu arah, tapi penumbuh kesadaran. Ia tak sekadar memberi aba-aba, tapi menggugah keberanian bertanya.

Namun yang kerap tampak: pemimpin yang takut pada rakyat yang berpikir karena pikiran merdeka tak bisa dijaga pagar-pagar retorika.

Mereka membangun jembatan antar kota, tapi membiarkan jurang makna menganga. Mereka dirikan sekolah, tapi membungkam pertanyaan. Kepatuhan dipuji, kebisuan dirayakan, kebijaksanaan dan keberanian justru dicurigai.

Dan kelak, ketika sejarah menoleh, ia takkan menghitung panjang jalan atau jumlah kursi yang digenggam. Ia hanya bertanya, pelan namun tajam: Apakah engkau mendidik bangsamu? Apakah rakyatmu sanggup berdiri saat engkau tiada?

Sebab pemimpin yang tak mendidik hanyalah bayang yang melintas di tanah kosong hilang bersama angin waktu, tanpa pernah benar-benar hidup dalam jiwa bangsanya.

Artikel Selanjutnya

Belajar Merdeka

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X