Karena sejatinya, lagu itu tidak pernah selesai. Ia hidup di dada yang terus menyanyikannya, bahkan dalam bisu.
Ia adalah suara bangsa yang tak akan diam, selama masih ada satu jiwa yang berseru: "Indonesia!"
Karena sejatinya, lagu itu tidak pernah selesai. Ia hidup di dada yang terus menyanyikannya, bahkan dalam bisu.
Ia adalah suara bangsa yang tak akan diam, selama masih ada satu jiwa yang berseru: "Indonesia!"
Artikel Terkait
Kisah Amangkurat I, Menghabisi Sultan Cirebon, Menantunya Sendiri
Tafakur dan Tasyakur di Hari Raya Iduladha 1446 H: Menyembelih Nafsu, Merawat Syukur
Pertemuan Bersahaja dengan Menteri Haji Kerajaan Arab Saudi
Mutiara Pagi: Banyak Mengeluh (Bagian 1865)
Mutiara Pagi: Dua Cahaya (Bagian 1866)
Menjadi Ibrahim di Abad 21: Menghidupkan Kembali Pesan Profetik Idul Adha
Berapa Jumlah Nabi dan Rasul yang Diutus ke Dunia?
Mutiara Pagi: Dari Titik Kecil (Bagian 1867)
Kecam Kekerasan terhadap Perempuan, Mahasiswa Tuntut Keadilan dan Perlindungan
FEBI UIN SGD Bandung Resmi Buka Prodi D-4 Manajemen Industri Halal, Siap Cetak Profesional Unggul