Oleh: Khoiruddin Muchtar (Staf Pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta Sekretaris LTN PWNU Jawa Barat)
Setiap tahun, gema takbir Idul Adha menggema dari gang kecil hingga jalan-jalan kota besar. Suara takbir disambut iring-iringan hewan kurban, lalu aroma daging yang dibagikan dengan penuh sukacita menguar di udara. Namun, di tengah euforia ritual tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: apakah makna spiritual kurban masih hidup dalam kesadaran kita, ataukah telah menyusut menjadi rutinitas tahunan belaka?
Idul Adha sejatinya bukan hanya hari besar keagamaan, melainkan peringatan akan nilai-nilai pengorbanan, keikhlasan, dan kepatuhan sebagaimana diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Di tengah arus zaman yang semakin dikuasai oleh logika kepentingan dan individualisme, pesan profetik ini sering kali tereduksi menjadi seremoni tanpa makna yang dalam. Kita merayakan kurban, tetapi jarang bertanya: untuk siapa kita rela “menyembelih” ego kita?
Kurban: Dari Simbol Keikhlasan Menuju Gerakan Sosial
Nabi Ibrahim adalah simbol keikhlasan paling murni. Ia siap mempersembahkan anak yang dicintainya bukan karena kehilangan nurani, melainkan karena keyakinan bahwa perintah Ilahi berada di atas segalanya. Tindakan ini bukan bentuk kepatuhan buta, tetapi ekspresi cinta, pengabdian, dan keimanan yang mendalam.
Namun di era digital yang sarat pencitraan, makna kurban sering kali bergeser. Unggahan video penyembelihan dan dokumentasi pembagian daging kurban kadang lebih dimotivasi oleh kebutuhan eksistensi sosial ketimbang semangat berbagi. Nilai-nilai batiniah tergeser oleh kebutuhan tampil di ruang publik.
Kita hidup di tengah apa yang oleh sosiolog Zygmunt Bauman disebut sebagai liquid modernity—suatu zaman di mana relasi dan makna hidup menjadi cair dan tidak stabil. Dalam dunia yang serba "aku", pengorbanan untuk orang lain terasa asing. Maka, menjadi Ibrahim hari ini berarti melawan arus besar egoisme, menundukkan nafsu individualistik, dan menghidupkan kembali semangat memberi secara ikhlas dan berkelanjutan.
Kurban dalam Perspektif Profetik: Dari Ritual ke Sistem Sosial
Dalam gagasan komunikasi profetik yang digagas Kuntowijoyo, agama bukan hanya urusan pribadi dengan Tuhan, tapi juga panggilan moral untuk mengubah realitas sosial. Tiga pilar utama dalam komunikasi profetik—humanisasi (amar ma’ruf), liberasi (nahi munkar), dan transendensi (tu’minu billah)—menjadi panduan etis dalam menerjemahkan nilai kurban ke ranah sosial.
Dalam konteks ini, kurban seharusnya menjadi instrumen sosial untuk mengatasi ketimpangan. Namun realitas berkata lain. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024 mencatat angka kemiskinan nasional masih di angka 9,36%, dan Gini Ratio stagnan di 0,388. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan dari kegagalan kita dalam menghidupkan nilai-nilai keadilan dan solidaritas.
Apa maknanya menyembelih sapi setiap tahun jika kita membiarkan tetangga hidup dalam lilitan utang pinjaman daring, upah murah, dan harga kebutuhan pokok yang terus melonjak?
Menghidupkan pesan profetik berarti menjadikan semangat kurban sebagai gerakan sosial yang terus berlanjut, bukan sekadar momen tahunan.
Menjadi Ibrahim Hari Ini
Menjadi Ibrahim di abad ke-21 bukan berarti meniru tindakannya secara literal, melainkan meneladani semangatnya secara kontekstual. Ujian kita hari ini bukan lagi berupa perintah menyembelih anak, melainkan kemampuan menyembelih egoisme, keserakahan, dan zona nyaman.
Artikel Terkait
Daffs Entertainment, Production House Asal Cianjur yang Sukses Curi Perhatian Publik
Aliansi BEM Cianjur Buka Suara, Usai 100 Hari Kerja Wahyu-Ramzi
Tidur yang Dirindukan
Rahasia Mengolah Daging Kambing agar Empuk dan Tidak Bau
Mutiara Pagi: Spiritualitas Kosmetik (Bagian 1864)
Kisah Amangkurat I, Menghabisi Sultan Cirebon, Menantunya Sendiri
Tafakur dan Tasyakur di Hari Raya Iduladha 1446 H: Menyembelih Nafsu, Merawat Syukur
Pertemuan Bersahaja dengan Menteri Haji Kerajaan Arab Saudi
Mutiara Pagi: Banyak Mengeluh (Bagian 1865)
Mutiara Pagi: Dua Cahaya (Bagian 1866)