Ada dua cahaya
Yang harus selalu dijaga
Nalar jernih dan keikhlasan
Dalam setiap percakapan
Kita kadang menyamakan
Antara kursi dan martabat
Sehingga kritik dianggap serangan
Apabila mencoba beda pendapat
Padahal, mencintai negeri ini
Tidak harus bersuara manis
Ironisnya, sering dianggap melukai
Bila ucapan bernada kritis
Akibat yang terjadi
Tidak bisa dibedakan
Antara tindakan melukai
dan upaya untuk menyembuhkan
“Buruk muka cermin dibelah”
Dalam kehidupan benar-benar nyata
Tidak mengakui telah berbuat salah
Karena akan merusak citra yang ada
Kebenaran sengaja dibelokkan
Demi nama dan kedudukan
Padahal nuraninya tahu
Semua itu hanyalah semu
Malang, 9 Juni 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Idul Qurban (Bagian 1863)
Daffs Entertainment, Production House Asal Cianjur yang Sukses Curi Perhatian Publik
Aliansi BEM Cianjur Buka Suara, Usai 100 Hari Kerja Wahyu-Ramzi
Tidur yang Dirindukan
Rahasia Mengolah Daging Kambing agar Empuk dan Tidak Bau
Mutiara Pagi: Spiritualitas Kosmetik (Bagian 1864)
Kisah Amangkurat I, Menghabisi Sultan Cirebon, Menantunya Sendiri
Tafakur dan Tasyakur di Hari Raya Iduladha 1446 H: Menyembelih Nafsu, Merawat Syukur
Pertemuan Bersahaja dengan Menteri Haji Kerajaan Arab Saudi
Mutiara Pagi: Banyak Mengeluh (Bagian 1865)