Tanah Airku

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 10 Juni 2025 | 17:30 WIB
Sejumlah pesepak bola dan staf Timnas Indonesia menyanyikan lagu Tanah Airku usai mengalahkan Timnas Bahrain pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/app/Spt)
Sejumlah pesepak bola dan staf Timnas Indonesia menyanyikan lagu Tanah Airku usai mengalahkan Timnas Bahrain pada laga Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (25/3/2025). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/app/Spt)

Oleh: Yudi Latif

Saudaraku, saya menyaksikan Indonesia yang redup di arena politik, namun menemukan nyalanya yang membara di Stadion Utama Gelora Bung Karno tempat di mana cinta tanah air bukan sekadar kata, melainkan gairah yang bergelora dalam jiwa, raga, dan suara.

"Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku..."

Ketika bait itu mengalun, ia menyusup seperti angin subuh ke lorong-lorong batin. Lagu itu bukan sekadar melodi ia adalah nadi sejarah, darah harapan.

Mengalir dari sawah basah hingga pelabuhan tua, dari senyum ibu hingga pekik merdeka, ia menggema seperti doa purba yang menuntun anak-anak bangsa pulang kepada tanah, kepada air, kepada ibu.

Dan ketika lagu itu dinyanyikan serempak di tengah riuh stadion, ia menjelma menjadi jantung kolektif. Ribuan suara bersatu dalam bara yang sama: merah, putih, dan tekad.

Tak ada jarak antara yang bersarung dan berjaket kulit, antara Papua dan Aceh semua melebur menjadi satu tubuh: Indonesia yang sedang berteriak, mencintai, memperjuangkan.

Mereka datang dengan wajah dicat warna bendera, membawa gendang, yel-yel, dan harap. Bukan sekadar penonton mereka adalah peziarah, menempuh jarak jauh hanya untuk menyanyikan bait yang dihafal dengan dada: "Tanah airku tidak kulupakan..."

Itu bukan hiburan, itu persekutuan munajat. Bukan tontonan, tapi pernyataan kesetiaan.

Di tengah lautan manusia, gotong royong bukan slogan, tapi napas. Yang satu tersandung, yang lain mengangkat. Yang kehilangan suara, disodori bendera untuk tetap berseru.

Di setiap tangan yang menepuk bahu. Di setiap genggaman yang membentangkan koreografi raksasa.

Di setiap peluh yang tak dikeluhkan, karena cinta, seperti patriotisme, memang tak selalu nyaman, tapi selalu setia.

Mencintai negeri ini bukan soal memilih, tapi mengalami bersama: menderita, berharap, menang.

Dan ketika peluit berbunyi menang atau kalah mereka pulang dengan nyanyian yang tetap: "Tanah airku tidak kulupakan..."

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X