Oleh: Yudi Latif
Saudaraku, saya menyaksikan Indonesia yang redup di arena politik, namun menemukan nyalanya yang membara di Stadion Utama Gelora Bung Karno tempat di mana cinta tanah air bukan sekadar kata, melainkan gairah yang bergelora dalam jiwa, raga, dan suara.
"Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku..."
Ketika bait itu mengalun, ia menyusup seperti angin subuh ke lorong-lorong batin. Lagu itu bukan sekadar melodi ia adalah nadi sejarah, darah harapan.
Mengalir dari sawah basah hingga pelabuhan tua, dari senyum ibu hingga pekik merdeka, ia menggema seperti doa purba yang menuntun anak-anak bangsa pulang kepada tanah, kepada air, kepada ibu.
Dan ketika lagu itu dinyanyikan serempak di tengah riuh stadion, ia menjelma menjadi jantung kolektif. Ribuan suara bersatu dalam bara yang sama: merah, putih, dan tekad.
Tak ada jarak antara yang bersarung dan berjaket kulit, antara Papua dan Aceh semua melebur menjadi satu tubuh: Indonesia yang sedang berteriak, mencintai, memperjuangkan.
Mereka datang dengan wajah dicat warna bendera, membawa gendang, yel-yel, dan harap. Bukan sekadar penonton mereka adalah peziarah, menempuh jarak jauh hanya untuk menyanyikan bait yang dihafal dengan dada: "Tanah airku tidak kulupakan..."
Itu bukan hiburan, itu persekutuan munajat. Bukan tontonan, tapi pernyataan kesetiaan.
Di tengah lautan manusia, gotong royong bukan slogan, tapi napas. Yang satu tersandung, yang lain mengangkat. Yang kehilangan suara, disodori bendera untuk tetap berseru.
Di setiap tangan yang menepuk bahu. Di setiap genggaman yang membentangkan koreografi raksasa.
Di setiap peluh yang tak dikeluhkan, karena cinta, seperti patriotisme, memang tak selalu nyaman, tapi selalu setia.
Mencintai negeri ini bukan soal memilih, tapi mengalami bersama: menderita, berharap, menang.
Dan ketika peluit berbunyi menang atau kalah mereka pulang dengan nyanyian yang tetap: "Tanah airku tidak kulupakan..."
Artikel Terkait
Kisah Amangkurat I, Menghabisi Sultan Cirebon, Menantunya Sendiri
Tafakur dan Tasyakur di Hari Raya Iduladha 1446 H: Menyembelih Nafsu, Merawat Syukur
Pertemuan Bersahaja dengan Menteri Haji Kerajaan Arab Saudi
Mutiara Pagi: Banyak Mengeluh (Bagian 1865)
Mutiara Pagi: Dua Cahaya (Bagian 1866)
Menjadi Ibrahim di Abad 21: Menghidupkan Kembali Pesan Profetik Idul Adha
Berapa Jumlah Nabi dan Rasul yang Diutus ke Dunia?
Mutiara Pagi: Dari Titik Kecil (Bagian 1867)
Kecam Kekerasan terhadap Perempuan, Mahasiswa Tuntut Keadilan dan Perlindungan
FEBI UIN SGD Bandung Resmi Buka Prodi D-4 Manajemen Industri Halal, Siap Cetak Profesional Unggul