ejarawan lokal, Ajip Rosidi, menyebut bahwa "masyarakat Sunda Kuno memiliki sistem pengukuran waktu yang jauh lebih kompleks daripada sekadar penanggalan Jawa-Islamik yang kemudian menguasai tanah ini."
Pengobatan dan Botani dalam Kebudayaan Sunda
Pakuan juga dikenal sebagai pusat pengobatan berbasis herbal yang kini disebut jamu. Ilmu pengobatan Sunda klasik, seperti terekam dalam naskah Kawih Panitisastra, menggunakan lebih dari 200 jenis tanaman lokal sebagai media penyembuhan fisik dan spiritual. Pengobatan tidak hanya dimaknai secara medis, tetapi sebagai upaya harmonisasi antara tubuh, alam, dan kehendak leluhur.
Sistem ini mencerminkan epistemologi khas Nusantara, yang dalam istilah Kuntowijoyo disebut sebagai "ilmu profetik" yakni perpaduan antara ilmu empiris dan spiritual sebagai basis peradaban. Di Pakuan, kita melihat praktik ini bukan sebagai mitos, tetapi sebagai bentuk awal dari biosemiotik: hubungan antara tubuh, simbol, dan alam.
Pakuan dan Etika Intelektual Sunda
Puncak dari peradaban sains bukan hanya pada teknologi, tetapi pada etika. Pakuan mengajarkan bahwa pengetahuan mesti berakar pada silih asih, silih asah, silih asuh tiga prinsip moral yang menjadikan ilmu sebagai alat pemuliaan kehidupan, bukan eksploitasi. Inilah yang membedakan Pakuan dari model Barat modern: bukan akumulasi informasi, tapi transendensi dan kedalaman jiwa.
Filolog Noorduyn pernah menyebut bahwa etika keilmuan dalam naskah Sunda Kuna "lebih menyerupai pandangan Plato tentang filsuf-raja daripada sekadar aristokrasi kekuasaan." Maka tidak mengherankan jika dalam tradisi Sunda, raja disebut Prabu dari akar kata bhrabhu (Sansekerta) yang berarti guru agung, bukan sekadar penguasa.
Menemukan Kembali Kota yang Hilang
Pakuan Pajajaran adalah Atlantis Sunda bukan karena ia hilang secara fisik, tetapi karena dilupakan secara epistemologis. Kita telah terlalu lama menatap ke Barat dan Timur Tengah untuk mencari akar sains, padahal di tanah ini pernah tumbuh kota ilmu, yang bukan hanya membangun istana, tapi juga memahat pengetahuan dalam ruang hutan, bintang, dan mantra.
Kini saatnya membongkar reruntuhan narasi, membuka kembali naskah-naskah kuno, dan merekonstruksi Pakuan bukan hanya sebagai situs arkeologis, tetapi sebagai polis intelektual. Seperti kata filsuf Heidegger, “Apa yang terlupakan bukanlah yang lenyap, melainkan yang tak diberi kesempatan untuk hadir kembali dalam pemikiran.”
Dan di antara rerimbun Leuweung Dago hingga reruntuhan Batu Tulis, Pakuan menanti untuk kembali menjadi kota filsuf. Bukan untuk membangkitkan romantisme purba, tetapi untuk mengingat bahwa di bawah akar-akar pohon kenari dan suara angin di Gunung Salak, pernah hidup bangsa yang memuliakan ilmu dan jiwa manusia.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Dengan Kata (Bagian 1860)
Redi Supriadi Raih Dukungan Terbanyak, Resmi Jabat Ketua Karang Taruna Cipetir
Konspirasi Kebohongan
Esensi Berkurban Terhadap Hakikat Sifat Manusia
Ketika 'Visa Langit' Tertutup, Impian Haji Furoda Ratusan Juta Rupiah Pupus
Mutiara Pagi: Berguru pada Orang Gila (Bagian 1861)
Hasbiallah Ilyas Minta Kejagung Jaga Proporsionalitas dalam Tangani Kasus Korupsi
Mahasiswa UNPI Cianjur, Haidar Ali, Gagas Program “Obras Barabe”: Obrolan Santai Bareng Orang Hebat dari Berbagai Kalangan
Bupati Hadiri Rakor Antikorupsi dan Penandatanganan Nota Kesepakatan di Gedung Pakuan, Wabup Tinjau Operasi Pasar Murah
Korupsi Berjamaah APBD