Pelajaran dari Abu Nawas
Mereka dianggap gila
Karena tidak ikut bertepuk tangan
Dibungkam tak boleh bicara
Saat kebohongan dijadikan perayaan
Pernahkah kita bertanya
Mengapa Socrates dipaksa minum racun?
Mungkin ia sudah dianggap gila
Oleh mata hati yang sudah rabun
Kebenaran, dianggap sebagai kegilaan
Kejujuran, dipahami sedang kerasukan
Tidak heran, jika yang salah jadi benar
Lalu mati-matian mencari alasan pembenar
Mungkin sudah saatnya
Kita beguru pada orang gila
Yang makan tanpa makan
Kemudian bicara tanpa bicara
Masuk pasar berpakaian sembarangan
Hanya untuk belajar gila seharian
Membiarkan orang lain menertawakan
Tutup mata tanpa perlu memperdulikan
Dengan menjadi sedikit gila
Siapa tahu bisa mencintai kejujuran
Atau bisa menemukan cara
Bagaimana menyukai kebenaran
Malang, 4 Juni 2025
Salam sehat,
M. Sinal
*Abu Nawas (Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami): seorang penyair dan cendekiawan abad ke-8, dikenal karena kecerdasan, humor, serta kedalaman spiritual dan filosofinya.
Artikel Terkait
Pelajar Bukan Produk Pabrik Juga Bukan Prajurit Perang
Fahmi Izzulhaq Ramadhan Terpilih Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Cisalak Lewat Musyawarah Warga
Bangkitkan Jiwa Wirausaha! DEMA STAI Al-Azhary Gelar Seminar Interpreneur untuk Generasi Muda
Jabatan Diselewengkan, Mundur
Sampaikan Pesan Langsung Peringatan 100 Hari Kerja Bupati dan Wakil Bupati Cianjur, HIMAT Ajak Kolaborasi Semua Pihak
Mutiara Pagi: Dengan Kata (Bagian 1860)
Redi Supriadi Raih Dukungan Terbanyak, Resmi Jabat Ketua Karang Taruna Cipetir
Konspirasi Kebohongan
Esensi Berkurban Terhadap Hakikat Sifat Manusia
Ketika 'Visa Langit' Tertutup, Impian Haji Furoda Ratusan Juta Rupiah Pupus